Saturday, 14 January 2017

Kita Mimpi Yuk!






Nggak mungkin saya  jadi Olynda. Gadis  bermata bulat dengan rambut ikal coklat bergelombang  besar. Designer belia yang tinggal di kastil  nyonya  bangsawan, clientnya.

Nggak mungkin  duduk di perpustakaan  berinterior Eropa klasik. Tenggelam di sofa baca warna mocca  serasi dengan warna pita   merah jambu  di pinggang saya. Renda putih romantis di leher baju membingkai  wajah lembut. Sesekali kerlip  bross warna ungu tua yang  tertimpa cahaya lampu krital membias di pipi dan dagu.

Apa lagi yang ini...
Putra tunggal clientnya yang lama sekolah di luar  negeri  tiba tiba memasuki ruang. Di sana awal cinta tumbuh. Saya jadi Olynda yang mampu membuat wajah dingin cerdas itu mencair  hangat penuh rindu. Meski harus berjibaku dengan kobaran cemburu melihat sang pangeran selalu dikelilingi gadis gadis berkelas.

Hihi, Blass!...Nggak mungkin samsek!
Itu mah ngayal Babu, kata anak sekarang.


Dahulu motivator Mario Teguh merancang mimpi. Punya rumah besar lengkap dengan kolam renang di dalam ruang. Sebegitu rinci angannya hingga mencatat berapa ketinggian permukaan  kolam. Dan semua terwujud persis.

Kata orang sukses, bermimpilah mumpung  gratis! Mimpi adalah masa depanmu.
Bermimpilah! Mimpi akan menggerakan tenaga untuk meraihnya.

Bahkan saya alami, impian waktu jadi   korban novel Barbara Cartland itu datang menghampiri tanpa usaha.
Di luar bayangan, saya uapkan mimpi bersama  orang orang tercinta.
Memang cuma patahannya, namun jadi anugerah besar karna  pemilik diri ini menunjukkan ke maha-an sifatNya. Ia pengabul segala keinginan  meski kecil sembunyi  tertutup batu hitam di malam pekat.






Bermula dari kepergian saya dan keluarga ke Bandung untuk hadiri acara Wisuda. Saya agak trauma cari penginapan di pusat kota saat acara penting kampus.

Pengalaman waktu anak ke dua mau daftar ulang di ITB, kami kehabisan penginapan. Keliling sampai magrib belum ketemu juga. Hingga usai sholat dan ngaso di masjid baru kami dapat jawaban yang membahagiakan dari resepsionis Home Stay. Ada sisa 1 kamar kosong, bisa booking buat 4 hari mendatang, alhamdulillah.
Kami dapat rumah tua  di pojokan daerah Suka Jadi, nggak apa-apa!
Printilan toilet jadul  dan sprei putih hampir menguning, ihlas! Yang penting anak saya nggak telat ke kampus, dan saya bisa menemani sarapan sambil kasih support.

Sekarang hari wisuda kakaknya. NHI perguruan tinggi negeri juga, jadi kasusnya sama dengan ITB, penginapan sekitar kampus sudah full booking oleh keluarga dari daerah daerah terdekat hingga  ujung Indonesia.

Saya pasrah jika dapat penginapan seperti dulu. Nggak berani tanya-tanya namanya apa, tempatnya di mana, ke anak yang sudah booking. Hawatir keluhan saya merusak suasana.
Dalam perjalan saya  cuma banyak syukur  menikmati kebersamaan. Sebab untuk pertama kalinya kami sekeluarga bepergian sejak pak suami pulang dari rantau.


















Foto Su Rima.


Langit mendung dan pepohonan basah menyambut kami di depan bangunan putih antik. Jendela kayu berkisi  berderet tinggi tinggi . Ada ayunan  kayu, lebar beratap kain, menghadap taman. Restaurantnya out door di sisi kanan gedung. Bergantungan kap lampu berseling sangkar burung berukir, semua serba putih. Eropa banget!

Dan begitu  masuk lobby, mimpi saya membentang!
Ruangan berinterior eropa klasik dengan lampu lampu redup romantis. Ruang perpustakaan berlampu baca tua, persis gambaran benak saya waktu jadi Olynda.



Haduh!! Rasanya kepengen jingkrak-jingkrak kayak ABG penggila drama Korea ketemu idolanya. Saya ingat  ajaran sahabat saya untuk  memaksimalkan Pre Frontal Cortex, bagian otak penahan  keinginan dan pengendalian diri, demi melawan otak reptil yang terlalu cepat mendesak desak bereaksi.

Saya memilih tinggal di kamar waktu pak suami dan anak anak  ajak makan mie kocok. Luapan bahagia saya tuntaskan dengan menyusuri semua sudut ruang penginapan yang kebetulan sedang sepi.

Susuri lorong sejuk  yang diterangi lampu dinding. Ada suprise di ujung sana. Pucuk pucuk Pinus di balik kaca berbulir hujan.
Di  sudut lantai  bawah bisa lihat teropong bintang , gramaphon, dan alat musik tua. Pokoknya  ambil gambar sampe kenyang,

Setelah puas, baru nikmati tempat tidur lembut harum, bersisian dengan tirai anggun menjuntai dengan motiv khas.
Entah bagaiman dalam pandangNya, melihat saya tersipu malu dan bersyukur  menerima hadiah.





Allah terlalu kaya dan santun. Malu bila tak mengabulkan harapan. Mungkin di bumi kita dapat seperempat patahan atau kurang dari itu. sisanya dibayar kontan pada hari "Perjumpaan" Insya Allah.

Eh, ada lagi mimpi saya yang lain. Ingin punya panti asuhan, balai pertemuan dhuafa tempat berbagi ilmu, dan satu mimpi spectakuler masa kecil masih tersimpan rapih dalam kotaknya.


Bermimpilah bahkan untuk hal yang mustahil sekali pun. Karna mimpi adalah doa. Bermimpilah setinggi langit. Andai jatuh, kita jatuh di antara bintang.

Ada stiker guyon nulis begini...
Bikin alis nggak usah  tinggi-tinggi, karna  bukan mimpi atau cita-cita. Hihi.

Kita mimpi,yuk!
























No comments:

Post a Comment