Thursday, 22 June 2017

Ahirnya Nulis Juga




Langit  memutih ... Matahari sembunyi.
Di stasiun Manggarai , gerimis sebentar.
Teman teman di grup WA mengalami hal serupa.
Insya Allah, itu ciri-ciri tadi malam kita kedatangan tamu Lailatul Qadar.
Trus, apa kegiatan  tadi malam?

Seperti malam malam ramadhan terdahulu, di sepuluh malam terahir ada malam malam tertentu yang mata sulit diajak kompromi. Apalagi cuma dengan secangkir kopi. Nggak mempan!
Habis tarawih masih seger, begitu jam 11-an mulai deh!
Saya siasati dengan macam-macam kegiatan  sambil minta pertolongan.
Tau nggak, yang paling bikin mata sepat jadi segar? Buka laptop! Hadeeh..

Sampai masak makanan sahur, saya masih bolak balik antara quran dan urusan dapur. Masak berpahala juga kata ustadz, lakukan sambil berzikir dengan zikiran sepuluh malam terahir. Allahumma innaka afuwun...dst. Tapi kok tetap merasa kurang.

Insya Allah, semalam adalah malam penuh berkah, malam bonus besar-besaran.
Matahari jam 4 sore kelihatan separuh. Warna jingga redup, berselaput tipis. Sesuai  yang Rasul sebutkan, seperti melihat matahari di dalam air.

Saya menyapa dia dengan segala pujian tak beraturan, saking gembira di tengah kesibukan duniawi dia memperlihatkan wajahnya yang sarat pesan.
Sayap para malaikat di rombongan terakhir menutupi cahayanya.  Entah insan mana yang beruntung mendapat tebaran karunia terbesar itu? Rahasia! (Semoga kamu yaa..)

Sebagai mahluk yang tau diri, kadar keimanan mudah ditakar, belum mampu memandang gemerlap dunia seperti bangkai anak kambing cacat, saya cuma berharap. Cukup Allah menerima saja puasa dan ibadah ramadhan saya. Itu sudah jadi kebahagiaan besar.
Kebahagiann lain? Jika setelah ramadhan pergi, ahlak dan ibadah saya bisa lebih baik dan berkwalitas.

Hehe, andai bisa, andai bisaa... Kepengen nego sama Allah. Minta bonus doong, atas usaha saya menolak berbagai undangan dan menahan ngantuk!

Demikian sekilas curhat. Janji sebulan penuh nggak nulis,eh! Ahirnya nulis juga.

















No comments:

Post a Comment