Sabtu, 13 Januari 2018

Nasehat Spesial Kali Ini


Ibu-ibu sekomplex  tau nikmatnya sambel buatan ibu satu ini.
Pas giliran arisan di rumahnya, pasti rame! Nggak ada PRT atau anak anak yang datang bawa titipan uang.

Sebelum kocok lot, sering ia berbagi resep, tips, atau info resto baru yang maknyuss.
Masih jelas di telinga saya, tawa khas dan cara menyebut nama saya pakai logat kental sunda, ditambahi huruf H dibalakang.

Di acara ahir, seperti  biasa... Berisik suara kantong plastik siap2 bungkus hidangan. Dan, sambel dominan warna  hijau berbau terasi spesial itu sudah jadi inceran ibu-ibu pecinta pedas!

Beberapa kali saya dapat suprise. Dikirimi  nasi kuning komplit dengan lauk dan tentu dengan sambal ngetop  itu.
Saya  mencari-cari, dengan apa membalas kebaikkannya?
Untung, dia suka sekali dengan mangga di depan rumah.
Mangga harum, warna pucat, daging tebal, dan nggak terlalu manis. Orang sini menyebut Mangga Bangkwang. Saya sisihkan yang terbaik setiap musim.

Temu paling sering saat jalan pagi habis subuh. Kelihatan kakinya masih kuat menopang tubuh besarnya.
Setelah saya pindah rumah ke blok lain, makin jarang ketemu.  Apalagi setelah dia keluar masuk Rumah Sakit karna diabetnya.

Bulan lalu kami saling melambai berbatas pagar. Sepertinya sedang berjemur . Duduk  di teras samping, dekat kandang kandang kucing kesayangannya.
Di situ juga ia suka mencuci peralatan masak ukuran jumbo.
Ibu resik, mengutamakan kebersihan dan kesehatan hingga ke wadah-wadah.
Lalu gunakan panas matahari pagi buat pengering.

Rupanya itu hari terahir kami saling bertukar senyum
Dan pagi ini  saya sambut kedatangannya dari pintu ambulance.
Semua berjalan cepat. Saya pakai sarung tangan setelah dapat izin dari pengurus jenazah. Setelah itu pelan2 membersihkan kukunya dengan cutton bud sambil  berulang-ulang membetulkan kafan penutup. Sesekali terdengar isak 2 putrinya yang terus menyabuni.

"Kenapa harus ditutupi terus? Di kampung, jenazah dimandikan dalam keadaan terbuka?" Tanya salah seorang tetangga .

Saya jawab yang saya tahu saja..
"Malaikat di langit menyaksikan semua. Tentu mayit malu kalau nampak aurat"

Waktu saya merapatkan mata dengan doa, putri bungsunya berbisik
"Apa mama masih menunggu seseorang?"

Padahal nggak ada hubungannya sama sekali. Dalam hadis menerangkan, setiap sakarat, manusia melihat ke arah mana ruhnya dibawa"

Langit sedikit mendung, tak bisa lagi tunggu saudara yang masih dalam perjalanan. Pemakaman hanya beberapa ratus meter dari rumah, jadi nggak butuh waktu lama, kifayah sudah tertutup tanah.

Ya Allah..
Singkat betul cerita manusia.
Lahir dengan tangis ...
tertawa...
lalu sunyi!


Tak lelah kita tertawa
Petik dawai angan iringi lagu mimpi
Padahal isyarat mati tertulis di kening

Tarikan nafas berpacu dengan iradat
Tipis jarak  ranjang dan lubang
Namun masih saja lamur
Menangkap kolom kolom cahaya

Masih saja puja puji dunia yang Rasul gambarkan 
seperti anak domba  buta, cacat, hampir sekarat.



Dalam bukunya, Ibnul Qayyim Al-Jauziah menulis sepotong syair yang pernah meneteskan air mata Imam Ahmad


Saat sakratul maut itu datang
Siapakah yang mampu melindungiku?
Aku melihat wajah orang orang
Tidakkah ada di antara mereka yang mau menebusku? 

Petik pesan:

Sebaik baik hamba adalah yang paling banyak manfaat. Tinggalkan jejak baik di bumi. Gunakan dunia sebagai sarana berbuat.
Nggak apa kecil atau sedikit. Jika Allah ridho, semua jadi besar
Puja puji bagiMu ya Rabb,  nasehatMu deras mengalir. Semoga hamba jadi pandai dan selalu ingat warna Nasehat Spesial Kali Ini.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar