Kamis, 22 Februari 2018

Pentingnya Optimasi Media Untuk Usaha Dhuafa




Saya alami sendiri bagaimana efek media setelah memperkenalkan satu produk.
Kegiatan ibu-ibu dhuafa bikin keset saya apload ke instagram. Nggak tunggu besok, teman  kuliah   pesan 5 keset, menyusul teman Blogger, dan komunitas. Ada 1 orang pesan 15 keset untuk sumbangan ke masjid. Alhamdulillah hari berikutnya tambah lagi, total 30.
Begitu cepat proses pengenalan disertai komunikasi langsung.







Jenis media sosial terus bertambah dan bervariasi. Tentu  menunjang pengenalan dan pengembangan bisnis besar mau pun kecil. Saya nggak menguasai strategi pasar, gaptek, plus sedikit follower, cuma 700. Tapi kata pakar, banyaknya followers belum tentu menjamin.


Adanya pesanan membuat ibu-ibu jadi semangat. 1 keset dihargai 35.000 .
Keset saya semprot pengharum pakaian sebelum dikemas dalam plastik yang bikin warna cerianya makin kelihatan cantik.
Bersyukur waktu lihat  Bu Siti dan Bu Fina sumringah terima uang.

Sekarang belum ada hitungan bagi hasil untuk perputaran modal. Kesepakatan teman-teman, biar mereka menikmati dulu.

Setelah dikenal pasti banyak yang harus difikirkan.
Bagaimana supaya keset bisa bersaing, mudah didapat dan memuaskan pembeli.
Umumnya kan pembeli mau CCM (Cakep, murah,cepat)

Hari minggu tanggal 3 Februari, teman-teman komunitas Asinan Blogger gelar workshop bertema "Mengoptimasi Media Sosial Untuk UKM" Ini  gawean pertama kami yang sarat ilmu. Pas pula dengan kebutuhan saya.


Meski hujan sejak subuh,  panitia sudah datang di taman koleksi kampus IPB. Saya kebagian tugas dokumentasi, jadi cuma mondar mandir cekrak cekrek sambil tunggu tamu.
Termint pertama  buat Kang Acuy, entrepreneur kesohor pemilik Mie Janda (Jawa-Sunda), dilanjut Mbak Shinta Ries lulusan UGM  jago networking yang namanya akrab di telinga blogger.

Di luar dugaan banyak pertanyaan penuh antusias dari tamu, nggak ketinggalan dari anggota penyelenggara sendiri. Mbak Een bercerita bagaimana usaha bantal bentuk kucing dan burung hantunya berjalan. Ia belum merasa interpeuner sejati . Rasa seni dominan hingga produknya limited 
Tamu lain pengusaha hijab bertanya bagaimana menghadapi kendala export?


PENGALAMAN KANG ACHOEY

Berawal dari ketagihan nge-blog sampai posting 2x sehari , ia rela keliling blog walking.
Begitu ide bisnis kuliner muncul, tanpa ragu digabunglah keduanya. "Mie Janda" dagangannya dengan cepat dikenal lewat blognya yang sudah menduduki rank 7.

Berikut tipsnya

1. Mulai dengan membuat blog
2. Kuasai  internet marketing berupa segmenting, targeting, dan positioning produk
3. Tentukan ceruk pasar produk
4. Kenali kelebihan dan kekuatan produk
5. Buat yang unik.

Masih ingat pesannya:

"Bisnis sukses adalah perusahaan komersil yang profitable, bisa bekerja tanpa kehadiran kita, dan membuat kita semakin mampu berbagi"


Usaha mandiri ibu ibu dhuafa binaan  KARISKA bisa dibilang masih piyik.
Minim SDM sementara pesanan banyak. Untuk menghindari kekecewaan pembeli ibu ibu harus kejar waktu sekaligus pelajari kesalahan.

Teman teman usul ada jeda promosi hingga stock tersedia. Alhamdulillah mereka pelaku bisnis faham segmen pasar dan  targeting.
Saya bagian positioningnya saja lah! Maksudnya merancang produk supaya dapat kesan spesial di benak konsumen.

Hari jum'at ini sudah janji ajari Bu Fina rajut croche. Cacat pinggiran keset / Alas sajadah bisa disiasati dengan renda croche. Kelihatan dia semangat, tekun dan sabar.
Mudah2an terlaksana apa yang Kang Achoey bilang... "Bisa bekerja tanpa kehadiran kita"
Positioning saya anggap tantangan, penambah ilmu,sekaligus penawar jenuh.

Insya Allah...Minta do'anya yaa.. :)





























Rabu, 14 Februari 2018

Waktu Menginap Di Capilano




2 malam di apartemen Capilano. Ada banyak tetangga tanpa kenal wujud di gedung 40 lantai ini.
Hanya gaung suara pintu buka tutup pas jam kerja dan sekolah.
Jika duduk di teras belakang baru bisa nikmati suara beberapa anak kecil meski yang itu-itu saja. Asik berenang sambil bercanda.

Beberapa balita tengah disuapi pengasuhnya yang bergelang kartu akses masuk.
Sarana senang-senang ada di lantai 9, selisih 2 lantai di bawah kamar saya. Jadi kedengaran jelas curhatan para ART.
Kala jenuh datang, mereka janjian nikmati singkong goreng bersama. Makan sambil buka dagangan jilbab. Mencuri bahagia sebelum tangan keriput ibu sang majikan menggapai, minta didorong keliling kolam renang di siang bolong.

Jam sekolah taman sepi. Saya buka buku bapak hasil ngoprek-ngoprek tumpukan buku di rumah kosongnya, kemarin.
Sepertinya belum pernah bapak baca, membelinya saja mungkin sudah lupa.

Bacaan tema sufi ini sebenarnya sudah saya tinggalkan 4 atau 5 tahun lalu. Tasauf memiliki macam macam aliran. Meski nggak mungkin lagi kembali, tapi jejak nafasnya masih terasa.
Isi buku tentang sanggahan sufi kepada mereka yang berseberangan.
Tiba-tiba diam.


Lalu pena rindu  merangkai ini...



Tepis sudah Hai'atul Maknuun
Seperti darah Layla menolak sembilu


Kataku tak terdengar
Pada  yang tak bertepi
Langit berputar karenanya

Ketundukan  atom
 jatuh cinta pada yang maha sempurna
Naik laksana tunas

Bagaiamana harus kukisahkan
duri berubah jadi mawar
Api ibrahim jadi embun
Luka Ka'ab jadi gula?

Bagaimana harus kuungkap
Alun rayu dayu hanya tangis dalam tawa?










Selasa, 13 Februari 2018

Kereta Tanpa Masinis



Bandara Soekarno-Hatta menyediakan juga kereta antar terminal (Sky Train).
Rail Link yang saya naiki dari stasiun Sudirman  berhenti pas di depan lorong menuju ruang tunggu. Tak ada jarak sama sekali hingga ruang kereta seolah bagian dari gedung.
Di ujung lorong langsung nampak Lounge . Sudah banyak orang  menunggu Sky train datang.

Gedung di area perkantoran ini lebih lengkap fasilitasnya. Ornamen arsitekturnya  transparan didominasi bahan baku kaca.
Ruang  tunggu berkursi empuk dilengkapi  TV, bisa nonton sambil lihat info penerbangan dan self  check in pemberangkatan.
Lainnya  ada Charge ponsel, ATM Center, ruang internet, dan Vanding Machine tiket otomatis dengan pemandunya







Persiapan acara pembukaan oleh Presiden



Tapi yang harus saya puji adalah ruang musholanya!  Beda jauuh dengan musholla  Stasiun Sudirman. Ruangan kecil hanya cukup untuk 6 jamaah perempuan dan 10 laki-laki. 2 Deret tanpa tabir/sekat sama sekali! Tempat wudhu bercampur bikin risih. Mending nunggu sepi dan sholat belakangan dari pada wudhu bersisian dengan laki-laki.




Mushola bandara bersekat, nyaman, bersih, harum. Bisa tenang duduk menunggu di sini sambil baca-baca. Speaker informasi cukup jelas.

Sky Train buatan Korea yang akan saya naiki nanti bisa mengantar ke terminal domestik mau pun luar negeri. Saya lihat relnya menempel pada dinding beton. Panjang tiap gerbonga 6 meter, lebar 2 meter,  punya 2 roda besar dan kecil.
Satu untuk berjalan, satunya mengarahkan sekaligus penjepit.


Sistem kerja mesin menggunakan AGT (Automated Guided Transit). Jadi roda-roda tadi dioperasikan oleh petugas khusus,OCC ( Operation Control Center). Dia duduk  diam mengawasi komputer di samping saya. Nggak ada penghalang kecuali  Standing Barrier atau tongkat berantai bahan stanless yang biasa kita lihat di antrian Bank. Sebagian besar penumpag berdiri karna perjalanan singkat.

Di luar langit cantik, magrib merayap. Detik-detik bertabur warna jingga romantis itu saya rebut.
Mesin derek yang menghalangi nggak mengurangi kecantikannya.
Mendadak sontak yang lain ikutan. Tapi selfian. Space saya jadi  makin kecil. 

Fabia ayyi 'alaa-i rabbikumaa tukazzibaan

Apa ini abad puncak  nikmat?
Seperti buku yang terbuka
Makin dekat tak berjarak, makin cepat, makin mudah, makin nyaman.

Jika datang saat 
si jingga  jadi mawar berminyak
Terputus tali angka, data.
Langit sepi, kuburan satelit.
Hancur tehnologi, sesembahan 

Manusia mabuk!



























Sabtu, 10 Februari 2018

Fasilitas Kereta Bandara Soekarno Hatta






Penumpang pesawat wilayah jakarta sekarang punya transporatsi pilihan baru menuju Bandara Soekarno - Hatta.
PT Railink sebagai pengelola fasilitas bandara,  menyediakan kereta mewah dan cepat. Berangkat dari Stasiun Sudirman Baru mulai jam 03:51 sampai 21:51 WIB.

Kereta buatan  PT INKA  dengan mesin buatan Swedia dan interior buatan Cina ini saya coba  sehari sebelum diresmikan Pak Jokowi. Mumpung masih mulus bersih di masa promosi dengan harga tiket 30.000, sekaligus mau tahu pemandangan lewat jalur lain.





Jam 11 siang saya sampai di stasiun Sudirman. Tanya-tanya sama orang kantoran, di mana stasiun Sudirman Baru?  Dia bilang "Di stasiun berikutnya, bu"
Walhasil saya nyangkut di stasiun Karet. Hampunn... Kenapa gengsi  ya, ngaku nggak tau?"

Saya yakin pasti nggak jauh dari stasiun Sudirman. Tapi kadung kelewat, saya nikmati minuman dingin saja di swalayan mungil si mart-mart itu sambil lihat stasiun sebelumnya dr kejauhan. Nah, kelihatan ada gedung baru di sebelah stasiun! Balik lagih!

Dia ada di sisi kanan, arah kereta dari Bogor.
Keluar pintu tiket  langsung jalan lurus 100 meter lewati fly over dan hotel Season.
Stasiun megah ini baru 75% kelar.  Bagi yang bawa kendaraan pribadi bisa parkir langsung di depan lobby. Lounge, pembelian tiket, resto dan musholla di lantai 2. Pintu menuju kereta malah di lantai bawah. Rada aneh memang. Penumpang dipaksa bolak balik naik turun.






Jangan bayangin ada loket ya. Begitu injak lantai 2 akan  ketemu mesin tiket  ukuran ATM lebih besar sedikit. Hanya pemegang kartu debit kredit yang  bisa beli tiket.
Screen otomatis menampilkan jumlah kursi yang masih tersedia.  Dan saya nggak dapat ,euy! Sudah diborong pemesan  online.

Terpaksa pesan yang berangkat jam 5. Habisin waktu ke mana?
Pengennya sih, ke hotel Season tempat anak sulung kerja. Sejak anak anak kost di Jakarta, hanya dia yang jarang pulang ke Bogor. Kangeeen.
Tapi kan, maluu! Anak saya kalau kerja hp nya off. Masa sih,  minta tolong satpam manggil dia di ruang komputernya?
Jadi saya putuskan ke rumah bapak.

Jam 4 hujan besar serta angin waktu saya kembali. Di stasiun Jatinegara ada rumah besar tertimpa pohon tua. Kejutan berikutnya di stasiun Manggarai. Penuh dengan penumpang yang tertahan.
Kereta jalur Sudirman  terhalang pohon tumbang.
 Kesian... Bukan kesianin diri, tapi kesian calon penumpang pesawat.
Pelajaran nih, supaya  siapkan alternatif lain kalau terjadi musibah kayak gini.

Jelang magrib Masinis berpakaian ala pilot baru siap di depan pintu. Karna 2 keberangkatan dijadikan satu, nomor kursi nggak berlaku lagi. Beberapa penumpang terpaksa berdiri sambil ngedumel marah.

Kereta mampir ke stasiun Duri, Batu Ceper, dan Pesing.
Kalau naik bis Damri biasanya lewati kebun pisang, danau-danau kecil, tumbuhan air, di pinggir jalan tol Grogol. Dengan kereta mewah ini, saya lewati padat lalu lintas manusia bermuka letih, jalan cepat lawan arus untuk berganti jurusan. Kereta  full tapi masih dipaksa sampai2 dorong badan penumpang biar pintu bisa tertutup.

Perjalanan  kereta dengan waktu tempuh 55 menit ini lewati Kampung Deret. Sudah lama cuma dengar nama, dan sekarang saya lihat sendiri. Kumuh, sesak, terlalu dekat  dengan laju kereta, atap seng berantakan dengan besi, ban-ban bekas. Anak anak kecil  gembira main di sedikit lahan, nggak peduli motor sliweran. Akrab benar dengan bising dan bahaya.
Saya jadi nggak enak! Terlalu kontras dengan suasana dalam kereta. Akh, pokoknya nggak tega lah!





Lewati kampung itu baru lihat hijau-hijau. Alhamdulillah masih ada luas sawah dan kebun. Burung-burung Bangau berkumpul nggak terusik dengan turun naiknya pesawat.




Fasilitas

Harga tiket kereta yang cukup untuk 272 penumpang ini nantinya akan dibandrol kisaran 100 sampai 150 ribu.
Kursi nyaman, tempat koper luas, ada USB di setiap kursi. TV LCD, AC berasa banget , siapkan jaket kalau nggak kuat.
Suara dan guncangan hampir nggak ada. Wi-fi high speednya sangat membantu penumpang yang masih punya tugas.
Dan nggak perlu tahan BAK. Toilet sama persis dengan toilet pesawat, semoga semua fasilitas tetap bersih dan terawat.

Ada yang cari tau jadwal? Semoga ini bisa membantu.




















Rabu, 07 Februari 2018

Limbah Jadi Cantik









Ini masih tentang craft berbahan limbah menyambung postingan lalu.
Limbah kain saya coba rajut dengan 2 haken atau Breyen kalau kata orang jaman dulu. Jalinan lebih rapat dan halus.

Supaya tampilan bagus saya menomor satukan pilihan warna.  Memadu warna favorit saya, 2 macam lila dan pink. Jadi ingat jaman percaya zodiac. Ini warna orang Virgo, warna bintangku! :)
Lumayan semangat bikinnya, kepingin gulungan bahan itu segera  jadi  keset warna soft bergradasi.
Kalau nggak diselingi pekerjaan rumah, beberapa hari bisa kelar.

Kira-kira terajut  1/4 bagian saya sambung dengan bahan warna lain. Di situ baru saya tahu kenapa keset bikinan ibu-ibu  nggak rata sisinya.
Pilihan tekstur amat penting ketimbang warna.
Kalau salah pilih, keset jadi mengerucut, ukuran dan ketebalan nggak seragam.
Pembeli pasti lebih memilih yang tebal dan berdaya serap.

1 karung saya temukan 4 macam tekstur. Ada bahan kaos lembut, kaos tebal kaku,  katun tipis dan katun tebal. 
PR nih, pisahkan 4 jenis ke dalam 4 karung dulu, baru  sortir motif.
Masker harus sedia menghindari  debu-debu  benang.

Rajutan breyen sudah selesai. Sayang kalau buat keset kata anak saya. Jadi buat duduk lesehan saja di depan komputer. *Jangan lupa, bayar! :)

Bahan kaos agak tebal dan kaku saya coba jadikan  alas gelas /piring anti panas  dan keranjang beauty case tapi yang ke dua ini saya pakai hakpen.
Semuanya masih percobaan jadi belum rapih-rapih amat. 
Niatnya buat sample, mudah mudahan saja ada beberapa ibu  yang tertarik dan mau sabar belajar.
Bentukan halus bisa masuk toko toko craft,  harga pasti lebih tinggi.

Langkah selanjutnya,  harus kompakan nih dengan pedagang limbah. Minta diperbanyak bahan katun.
Harga mahal sedikit nggak apa-apa deh. Dari pada harus bergumul dengan debu benang.







Selasa, 06 Februari 2018

Permintaan Sahabat


"Jangan belajar ke saya. Baiknya hadiri kajian atau cari guru khusus"

Saya bilang begitu ke sahabat yang sudah seperti adik sendiri. Ia minta diajarkan soal agama sendirian saja.
Haru dengar permintaan seriusnya. Tapi bicara pemahaman Islam kan luas banget! Saya ingin dia memastikan kebutuhannya. Soal guru dengan senang hati saya bakal bantu deh!
Meski dipaksa, saya belum bisa menerima, apalagi kasih jadwal ketemu.

Lalu ia jelaskan penyebab timbulnya semangat belajar.
"Makin terasa jatah waktu tinggal sedikit" Katanya. *Lho sama!
"Apa salahnya belajar ke orang terdekat?" *Iya sik! Tapi ilmu saya kan cetek banget!

Asatizah (Guru2), tu sama dengan dokter. Ada yang umum ada yang spesialis ilmunya. Guru-guru tawadhu' nggak akan sembarangan menjawab. Makin tahu makin takut, makin hati-hati.
Berani ngaku kalau nggak tahu alias nggak akan bangga jika bisa jawab semua pertanyaan.

Beda dengan guru kangen masyhur. Agak maksa jawabnya, tanpa dalil, ngomongin isi koran doang,  berapa persen becanda, berapa ayat dan hadis yang keluar. Gampang dihitung! 
Sayang, kebanyakan muslim gemar dengan ceramah retorika begini.

Memilih guru perkara penting. Jangan seperti saya yang pernah salah, nggak faham manhaj gurunya ke mana?
Jika pemahaman guru  jauh dari Rasul  atau gunakan hadis hadis yan meragukan, adis nggak jelas, tinggalkan tanpa nyinyir. Semua guru berniat baik, dan ada garis adab yg sudah Allah tegaskan.

Kagum dengan ustad yang masih mau jadi murid, duduk diam diam di saf belakang dengar kajian ustad lain.
Tujuannya mematikan ujub, belajar adab dari pengajar, menasehati diri bahwa makin dipelajari, ilmu agama makin luas.
Beda dengan dokter, makin pandai dia, makin kecil yang diselidiki. Ahli saraf, darah, bakteri dll.

Saya amat sangat sayang dan mensuport keinginannya. Melihatnya seperti melihat saya yang dulu.
Rajin kajian tematik sana sini tanpa tahu bahwa ilmu saling jalin itu akan runut  ke satu muara.
Cuma ikut kajian tematik  sama seperti  mengumpulkan keping puzzle tapi nggak tahu gambar apa yang akan dibentuk?? Mana awal mana ahir? 

Ahirnya saya bersedia dengan catatan, bukan jadi gurunya.
Saya hanya share apa yang saya tahu.
Basic banget sifatnya. Tujuan utamanya supaya dia tahu, di mana posisi pengetahuan agamanya selama ini ? Dan gambaran yang akan dituju seperti apa?

Polanya sederhana tapi esensi hidup banget. Jika dipelajari akan timbul penasaran kepengen tahu kelanjutannya, jika mempraktekannya  insya Allah jadi sumber kebahagiaan dan ketenangan.
Metode boleh beda, tapi muslim yang beda cara memahami pun akan angguk angguk kepala.

Kalau yang njelimet, disusah-susahin, apalagi bersifat rahasia dan bangga hanya segelintir yang memiliki ilmu itu, pasti... pasti.. bukan ilmu dari Allah.
Allah itu nggak akan merepotkan, memberatkan, apalagi mengkasta kastakan hambaNya.
Ilmu seperti cahaya, kecepatan tinggi dan mampu menyusup di celah sekecil apa pun. Kecuali ada pintu  tertutup.

Wallahu a'lam..
*Di belakang layar pontang panting bikin skema, demi permintaan Sahabat.







Senin, 05 Februari 2018

Program Kariska Membentuk Dhuafa Mandiri





Saya setengah yakin waktu menerima mandat teman teman alumni RISKA membentuk usaha mandiri ibu-ibu dhuafa, warga pinggir kali Cipinang di daerah belakang rumah bapak. Selain rumah saya jauuh dari lokasi, kerjaan kayak gini baru pertama kali.

Waktu blusukan, wajah wajah lama tinggal sedikit. Mereka yang tau masa kecil saya sebagian besar sudah meninggal.
Sisa tukang becak yang biasa mangkal di depan rumah, pemilik warung, dan keluarga pengurus jenazah. Selebihnya pendatang, kebanyakan penjual nasi goreng gerobak.

Apa ibu ibunya berminat? Senang hal baru? Punya waktu?

























Bulan November Bu RW berhasil mengumpulkan ibu-ibu.
Telah siap 1 kwintal kain limbah seharga 1 juta, 6 alat bahan kayu, 6 gunting, 6  pengait.
Belanja perlengkapan hampir 2 juta plus persiapan honor guru 2 juta untuk 8 kali pertemuan. Itu modal awalnya.

Acara pembukaan di halaman rumah Pak RW. Dihadiri bapak bapak wakil dari Kelurahan dan 3 orang alumni Riska.
Usai acara sambutan, ibu ibu langsung belajar. Kalau lihat sample keset, orang kira bikinnya rumit. Padahal mudah sekali.
Bapak bapak saja sampai antusias mencoba.

Karya awal memang rada mencang mencong (Nggak simetris) sisi keset.
Tapi setelah berjalan 3 bulan ini alhamdulillah keset sudah bagus dari tangan 2 ibu. Yang lain perlu teliti pilih jenis bahan.
Pokoknya gembira lah, lihat mereka senang menemukan bakatnya sendiri dan jadi penghibur di tengah ritme kewajiban rumah tangga.

Minggu lalu anak kecil laki-laki Bu Siti yang lagi asik main di jalan tiba-tiba datang saat kami mengelompokkan bahan. Sambil ngos-ngosan dan berkeringat dia  kasih ide padu warna buat emaknya.
Dan dengar kabar dari adik saya yang lewat rumahnya,  mereka selesaikan keset  di depan pintu rumahnya.
Pemandangan yang menyenangkan baginya, apalagi buat saya? Apalagi buat pengurus dan  donatur-donatur itu?

Mungkin pembaca  punya niat zakat atau infaq yang peruntukkannya belum tahu ke mana, semoga ini jadi ide. Mulai saja dari tempat terdekat. Membuat saudara kita mampu menghasilkan sesuatu hingga terbantu ekonomi keluarga, itu sumber bahagia kita juga.


Ada sih kendala kecil, misalnya saat semangat mereka turun, ada yang cepat bosan lalu tinggalkan kerjaan, ada yang cuma mau tau saja setelah itu...Wassalam!  Tanpa salam tanpa kalam juga ada!
Dan jangan kaget, ada yang belum bikin sudah tanya, saya dibayar berapa?
Nggak usah diambil hati! Kita akan mafhum kalau tahu kehidupannya.

Oh ya, biar irit biaya, jangan panggil guru bertarif. Panggil saya saja! :)








Kamis, 01 Februari 2018

Pesan Mentari Rembulan


Pada gelombang takbir

Purnama mendekat
Segaris lurus pandang
Biasan cahaya meruncing pada retina
pintu alam shaghir

HiburanMu
SapaMu
Lembut selimuti  isyarat tajam

Perlahan bayang menyapu
hening syahdu menjerat jiwa


DekapMu hangat dalam darah
Redam bising dahsyat berganti gemintang
Kerlip merayu

Bodohnya aku
Lena di keindahan
Tak mampu menyingkap
Ketundukan terpenggal-penggal
Berserah entah pada siapa


Duhai,
Tuntun jemariku menyambung titik
Pahami  bahasa langit hingga belukar
Pahami pesan mentari rembulan