Selasa, 06 Februari 2018

Permintaan Sahabat


"Jangan belajar ke saya. Baiknya hadiri kajian atau cari guru khusus"

Saya bilang begitu ke sahabat yang sudah seperti adik sendiri. Ia minta diajarkan soal agama sendirian saja.
Haru dengar permintaan seriusnya. Tapi bicara pemahaman Islam kan luas banget! Saya ingin dia memastikan kebutuhannya. Soal guru dengan senang hati saya bakal bantu deh!
Meski dipaksa, saya belum bisa menerima, apalagi kasih jadwal ketemu.

Lalu ia jelaskan penyebab timbulnya semangat belajar.
"Makin terasa jatah waktu tinggal sedikit" Katanya. *Lho sama!
"Apa salahnya belajar ke orang terdekat?" *Iya sik! Tapi ilmu saya kan cetek banget!

Asatizah (Guru2), tu sama dengan dokter. Ada yang umum ada yang spesialis ilmunya. Guru-guru tawadhu' nggak akan sembarangan menjawab. Makin tahu makin takut, makin hati-hati.
Berani ngaku kalau nggak tahu alias nggak akan bangga jika bisa jawab semua pertanyaan.

Beda dengan guru kangen masyhur. Agak maksa jawabnya, tanpa dalil, ngomongin isi koran doang,  berapa persen becanda, berapa ayat dan hadis yang keluar. Gampang dihitung! 
Sayang, kebanyakan muslim gemar dengan ceramah retorika begini.

Memilih guru perkara penting. Jangan seperti saya yang pernah salah, nggak faham manhaj gurunya ke mana?
Jika pemahaman guru  jauh dari Rasul  atau gunakan hadis hadis yan meragukan, adis nggak jelas, tinggalkan tanpa nyinyir. Semua guru berniat baik, dan ada garis adab yg sudah Allah tegaskan.

Kagum dengan ustad yang masih mau jadi murid, duduk diam diam di saf belakang dengar kajian ustad lain.
Tujuannya mematikan ujub, belajar adab dari pengajar, menasehati diri bahwa makin dipelajari, ilmu agama makin luas.
Beda dengan dokter, makin pandai dia, makin kecil yang diselidiki. Ahli saraf, darah, bakteri dll.

Saya amat sangat sayang dan mensuport keinginannya. Melihatnya seperti melihat saya yang dulu.
Rajin kajian tematik sana sini tanpa tahu bahwa ilmu saling jalin itu akan runut  ke satu muara.
Cuma ikut kajian tematik  sama seperti  mengumpulkan keping puzzle tapi nggak tahu gambar apa yang akan dibentuk?? Mana awal mana ahir? 

Ahirnya saya bersedia dengan catatan, bukan jadi gurunya.
Saya hanya share apa yang saya tahu.
Basic banget sifatnya. Tujuan utamanya supaya dia tahu, di mana posisi pengetahuan agamanya selama ini ? Dan gambaran yang akan dituju seperti apa?

Polanya sederhana tapi esensi hidup banget. Jika dipelajari akan timbul penasaran kepengen tahu kelanjutannya, jika mempraktekannya  insya Allah jadi sumber kebahagiaan dan ketenangan.
Metode boleh beda, tapi muslim yang beda cara memahami pun akan angguk angguk kepala.

Kalau yang njelimet, disusah-susahin, apalagi bersifat rahasia dan bangga hanya segelintir yang memiliki ilmu itu, pasti... pasti.. bukan ilmu dari Allah.
Allah itu nggak akan merepotkan, memberatkan, apalagi mengkasta kastakan hambaNya.
Ilmu seperti cahaya, kecepatan tinggi dan mampu menyusup di celah sekecil apa pun. Kecuali ada pintu  tertutup.

Wallahu a'lam..
*Di belakang layar pontang panting bikin skema, demi permintaan Sahabat.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar