Rabu, 14 Februari 2018

Waktu Menginap Di Capilano




2 malam di apartemen Capilano. Ada banyak tetangga tanpa kenal wujud di gedung 40 lantai ini.
Hanya gaung suara pintu buka tutup pas jam kerja dan sekolah.
Jika duduk di teras belakang baru bisa nikmati suara beberapa anak kecil meski yang itu-itu saja. Asik berenang sambil bercanda.

Beberapa balita tengah disuapi pengasuhnya yang bergelang kartu akses masuk.
Sarana senang-senang ada di lantai 9, selisih 2 lantai di bawah kamar saya. Jadi kedengaran jelas curhatan para ART.
Kala jenuh datang, mereka janjian nikmati singkong goreng bersama. Makan sambil buka dagangan jilbab. Mencuri bahagia sebelum tangan keriput ibu sang majikan menggapai, minta didorong keliling kolam renang di siang bolong.

Jam sekolah taman sepi. Saya buka buku bapak hasil ngoprek-ngoprek tumpukan buku di rumah kosongnya, kemarin.
Sepertinya belum pernah bapak baca, membelinya saja mungkin sudah lupa.

Bacaan tema sufi ini sebenarnya sudah saya tinggalkan 4 atau 5 tahun lalu. Tasauf memiliki macam macam aliran. Meski nggak mungkin lagi kembali, tapi jejak nafasnya masih terasa.
Isi buku tentang sanggahan sufi kepada mereka yang berseberangan.
Tiba-tiba diam.


Lalu pena rindu  merangkai ini...



Tepis sudah Hai'atul Maknuun
Seperti darah Layla menolak sembilu


Kataku tak terdengar
Pada  yang tak bertepi
Langit berputar karenanya

Ketundukan  atom
 jatuh cinta pada yang maha sempurna
Naik laksana tunas

Bagaiamana harus kukisahkan
duri berubah jadi mawar
Api ibrahim jadi embun
Luka Ka'ab jadi gula?

Bagaimana harus kuungkap
Alun rayu dayu hanya tangis dalam tawa?










Tidak ada komentar:

Posting Komentar