Rabu, 14 Maret 2018

Waktu Dan Ilmu


Tadi, sebelum berhadapan dengan laptop, saya sarapan menghabiskan tahu isi, kue apem dan segelas teh hangat sambil baca WA grup kajian yang rutin share Shirah Nabawiah.
Kali ini tentang perjalanan kakek  Rasulullah SAW selagi muda. Pemimpin suku Quraisy ini tegar mencari titik mata air zam zam di seputaran Ka'bah. Lalu Allah membimbing beliau lewat gerakan seekor burung.
Maka bergembiralah penduduk negeri tandus, setelah hilang harapan bahkan sempat mencela tindakan Abdul Mutholib.

Bahasan sampai ke satu nama "Harits". Siapa dia? Tanya teman-teman. Saya temukan posisi dia sejajar dengan paman-paman Rasul. Jangan keliru dengan Haritsah pembantu setia Rasulullah.

Penasaran berkembang soal 2 paman Rasul, Abu Jahal dan Abu Lahab kok nggak ditemukan namanya? Siapa yang namanya disebut dalam Quran?
Tentu nggak ada di skema silsilah karna nama asli Abu Jahal adalah Amr Bin Hisyam, sedang Abu Lahab adalah Abid Al Uzza ibnu Abdul Mutholib.
Banyak yang mengira Abu Jahal adalah paman Rasul, padahal nggak ada hubungan darah.
Abu Lahab lah  paman Rasulullah yang namanya disebut dalam Qur'an.

Sambil sarapan  kita bisa juga dapat ilmu jika diniatkan. Atau di moment lain saat mood lagi bagus.
Paling semangat dan membekas, saya baca setelah sholat subuh. Kadang sampai nggak terasa sudah jam 8. Saatnya siapkan sarapan.
Saya targetkan beberapa bulan ke depan bisa menerjemahan kalimat2  pendek dalam quran, dan lewat Riyadus Shalihin bisa tahu macam2 ucapan  Rasulullah dalam percakapan hingga mudah diterima dan membekas di hati para sahabat.

Kita hitung, berapa banyak waktu dari jatah 24 jam yang niat disisihkan untuk memahami tentang agama kita? Sedikit sekali!
Ngaku muslim, berimam pada Syafii tapi  nggak kenal siapa beliau?
Berapa kitab karya beliau? Adakah salah satunya terselip di antara buku-buku sience/bacaan  kita?

Dulu rajin beli buku, tapi sudah umur segini baru punya 1 buku ttg ajaran Imam Syafii  (Ajaran Mazhab Syafii yang ditinggalkan). Buku Ar Risalah masih jadi inceran. Awal membelinya karna malu dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, sama sekali bukan untuk bahan diskusi atau lain-lain.

Membaca tulisan para ulama memecut diri, bahwa kita ini hanya debu ringan di antara gugusan bintang ilmu.
Hati jadi lapang menerima perbedaan dalam masalah furu'. Jadi tahu betapa berkahnya waktu para ulama. 24 jam mereka bisa untuk memenuhi kebutuhan dapur, mendidik istri dan anak, mengajar murid-murid, belajar jauh-jauh mencari guru, menghafal quran dan hadis, meneliti buku buku rujukan, duduk diam-diam di masjid untuk belajar ahlak da'inya, bahkan melakukan perjalanan panjang 6 bulan ke negeri tabi'it tabi'in  hanya untuk membuktikan 1 hadist yang ia temukan shahih, lemah atau palsu?

Saya juga jadi tahu tentang azan. Azan yang berkumandang kini berasal dari mazhab lain. Kalimat azan yang syafi'i susun urutannya seperti yang dilantunkan Bilal.
So, fanataik bermazhab atau keyakinan bahwa cuma punya satu imam, nggak tepat.

Ilmu dunia makin dipelajari, makin kecil yang diselidiki. Sampai2 ada dokter yang belajar lagi ilmu sel darah. Sedang ilmu agama, makin dipelajari makin meluas, umur kita nggak akan sampai.

Bangga menguasai sience modern? Bangga bisa menikmati hidup?
Bagaimana  dengan 4 pertanyaan sederhana di kubur?
Nggak bisa bawa keplean contekan, sebab cuma ilmu agama dan ahlak kita di bumi yang bakal membimbing lidah.
Siapa Allah , ada apa di balik kehendakNya? Siapa Rasul? Hal hal apa saja yang bisa menggugurkan syahadat ?

Bicara Allah dan Utusan2Nya bukan sekedar cinta.
Kalau cuma ( Merasa)cinta , jangan-jangan... Kita termasuk orang yang disebut Allah panjang angan-angan, merasa beriman atau penghayal.

Umur terus maju, kesempatan makin sedikit. 1 hari 70 x malaikat maut mondar mandir di hadapan kita, nge-cek jatah umur. Sementara kita masih asik haha-hihi, make a wish, tiup lilin dan potong kue!
Waktu nggak akan mungkin berulang. Seenggak mungkinnya Allah mengembalikan orang mati ke bumi lagi. Beberapa menit  tadi  saya berjalan dari kamar ke ruang makan, saya nggak pernah bisa ambil lagi waktu yang tadi.

Wajib diniatkan, tiap hari tambah ilmu, meski sebesar bulir embun di ujung daun. Meski sebentar seperti hapusnya jingga tua di ufuk.

Katakan TIDAK  pada menunda. Biasanya yang jadi perisai; "Saya sibuk", atau "Besok saja", atau "Semua ada waktunya".
Kebiasaan menunda akan membelit diri sendiri, tersiksa rasanya. Saya pernah mengalaminya, sering kapok, tapi sering berulang. Harus tega sama diri sendiri kuncinya.

Cukup menghentak batin saat lihat angka di screen kamera saat merekam gambar.
Ada dua angka berganti cepat di pojok kanan atas. Angka di atas tanda durasi rekam bertambah dengan cepat , dan angka di bawah bergerak mundur seiring jatah waktu rekam.

Seringkali kita menunda sesuatu hal karena memikirkan "Harga" yang harus dibayar untuk  melakukannya. Namun seringkali lupa menghitung "Harga" yang harus dibayar ketika kita nggak melakukannya.

**Kuncinya terletak bukan bagaimana anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu anda  ( Stephen R.Covey)










Tidak ada komentar:

Posting Komentar