Minggu, 23 September 2018

Kata Bapak Di Suatu Sore





Pasti tengggelam di samudera waktu
Walau pun umurku seribu tahun, tiada arti.

Apa arti seribu tahun?
Umur dunia siapa yang tahu?
Umur alam siapa yang tahu?
Kita pasti tenggelam karna seribu tak bermakna dalam masalah umur alam

Pasti tenggelam di samudera waktu

Kupandang semesta alam
Tujuh lapis langit dengan rahasianya
Kalau ditulis seluruh laut tinta dunia
Tak bisa jadi tinta untuk menulisnya
Aku adalah abunya semesta alam

Tetapi kusadar, mensyukuri diriku
Walau laksana debunya alam
Aku ada dalam jalan pencipta alam

Diri dilihat dengan kejadian ciptaan Allah
Tidak ada apa apanya

Seumpama ilmu
Allah memberi hanya sedikit
Tapi Allah memberi kalimah Laa ilaha ilallah

Dengan ilmu sedikit, banyak orang bertitel
Ada yang punya puluhan predikat
Tapi hakikatnya hanya...
Laa ilaha ilallah.

Dengan Subhanallah Walhamdulillah
Walaa ilaaha ilallah
Pahalanya memenuhi langit dan bumi

Aku...
Walau pun debu
Tapi dicipta tuk menghamba
Aku rahasia Allah
Aku Bahagia

Kamis, 20 September 2018

Ujung Kehidupan



Cukup mengaduk aduk perasaan  menyaksikan beberapa orang yang saya kenal dekat pergi satu persatu memenuhi panggilan Rabb.
Kebaikan mereka masih hangat , kenangan masih bermain,  lalu satu lagi menyusul.
Tante yang saya kagumi wafat di hari jumat , hari mulia dambaan banyak orang karna pertanda baik. Pelayat memenuhi masjid ingin mensholati. Doa doa ihlas melangit di pemakaman

Hadiah layak buat tante lembut, sabar, berani, dan disiplinnya jadi panutan. Tahun 80-an mendapat predikat ibu teladan dari Bapak Soeharto mantan presiden RI.
Pensiunan kepala sekolah SMP Negeri Teladan kota Depok ini 20 tahun membesarkan 9 anak sendirian sejak suami wafat. Terkenal di kalangan kerabat sebagai ibu yang pandai menjaga silaturrahmi. Di usia senja nggak pernah merasa repot membawa semua anak, cucu, cicit keliling ke rumah saudara-saudara di hari raya.

Saya pernah merasa diri teramat spesial. Waktu itu hari wisuda,  beliau datang mengucapkan selamat dan memberi bingkisan bahan baju motif bunga warna kesayangan. Kado semata wayang di moment penting nggak akan pernah terlupa.

Pertemuan terahir sebelum ramadhan, dalam keadaan rapih segar habis mandi tante menyiapkan makanan siang. Bentuk sedekahnya yang nggak pernah ditinggal. Tamu keluar dari rumah itu harus dalam keadaan kenyang! Siapa yang pernah menyangka bahwa itu pamit saya terahir berbekal nasehat yang membekas.

"Jangan pernah berprasangka buruk pada anak!"

Begitu jawabnya saat saya tanya apa resepnya mendidik anak hingga semua berilmu dan berahlak baik?

Ya Rabb...
Saya bersaksi atas semua kebaikan dan nasehatnya. Jadikan semua pengantar ke tempat mulia di sisiMu dan sanggupkan diri ini melaksanakan  uswatun hasanahnya.

Ah, kalau sudah begini jadi malas melakukan sesuatu yang keduniawian. Kembali saya buka buka  postingan blog. Apa harus saya tutup? Apa bisa jadi pemberat timbangan?

Macam macam keadaan ujung hidup seseorang nampak jelas. Setiap melihat deretan nisan selalu timbul kata, hidup kayak gini aja?? Kemana perginya keringat dan seabreg gelar?
Rugi berat bagi yang menyia-nyiakan. Tak termaafkan bila nafas gratis ini nggak bernilai.
Dikira hidup akan lama padahal setiap helaan nafas artinya mengurangi jatah nafas.
Mau menahan nafas supaya panjang jatah? Yang didapat malah sebaliknya.
Senang waktu perut kenyang dengan menu sedap, padahal hanya membuat kaki kuat menuju "Tempat Pertemuan" yang dijanjikan

Nisan boleh sama, atau sama juga status soasialnya, tapi berbeda saat berbangkit.
Iman fluktuatif, debet kredit selalu terjadi, yang penting saldo akhir besar kan?


Jika manusia bosan dan merasa direcoki dengan banyak permintaan.Untungnya  Allah kita malah makin cinta jika dirongrong, diserahi segala urusan, dan dimintai pertolongan.
Semoga Allah membimbing hati agar mampu menomor satukanNya di atas segala, ahir hidup dengan husnul khatimah, dijauhkan dari sifat buruk dan didekatkan dengan orang orang shaleh.
Amiin ya Rabb..