Kamis, 25 Oktober 2018

KARISKA Di Antara Bukit Sampah



Dok. /megapolitan.kompas.com


7 oktober pagi sekali, motor yang membawa saya sudah membelah aroma sampah buangan warga Jakarta  6500 ton per hari
Entah asap sisa bakaran atau kabut pagi  yang selimuti bukit-bukti sampah ini ? Kelihatan sama warna. Anggap saja kabut membawa embun, toh dingin masih terasa meski nggak menggigit.


Anak-anak tukang pulung sudah duduk berjejer di depan musholla.
Batul kan? Anak anak selalu hadir sebelum waktunya kalau ada acara lomba.
Kerudung warna pink membalut wajah-wajah halus jernih.  Dengan tangan dingin serta senyum malu mereka cium tangan. Sebetulnya nggak tega kalau ada yang cium tangan, tapi nggak apa apalah kalau dengan itu mereka happy dan saya tambah sungguh sungguh mendoakan .
Setelah itu mereka menyebar cari tempat masing-masing sambil bercanda tertawa.


Lihat senyum mereka jadi ingat lirik lagu favorit saya...

Bocah bocah bercanda dengan lugu
Wajah tanpa dosa bagai salju
Coba dengar suaranya, bening tak penuh debu
Kata hati jujur lugu tanpa punggu tipu

Matanya bening, bibir sebersih mega
Damai damai dunia ini, hidup seperti mereka





Puncak Muharram sudah berlalu, tapi gaungnya masih mampu mengumpulkan kami Kariska di sini . Insya Allah 2x  pertemuan dengan warga  Sumur Batu-Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang.
Pertemuan pertama ini mengajak anak anak usia SD lomba mewarnai, hafalan surah pendek dan doa sehari hari. Sedang para ibu dapat ilmu Craft mengolah limbah kain (Majun).


Waktu berjalan cepat. Pembagian tugas dan arahan kepada para juri selesai sebelum rombongan panitia lain tiba.
Terimakasih buat yang sumbang makanan sarapan. Risoles mayo yang bertumpuk jadi nggak ragu nambah. Lontong gurih isi oncom dan rebusan ubi Cilembu yang harum. Jazakumullah khairaan.

Sambil ditemani alunan marawis santri At Taubah kami duduk di depan ruang ta'lim yang dulunya kumuh.  Kamar mandi nggak memenuhi sarat kesehatan, sisa ruang berlantai  tanah beri kesan sempit.

Kini ruang ta'lim berkaca besar dengan frame  alumunium.  Ruang berlantai tanah  jadi aula terang terbuka, bersih, setelah terpasang keramik. Atap nggak bocor lagi bahkan  tempiasan hujan pun nggak ada kalau jamaah melimpah.

Jihad punya banyak bentuk. Ada yang dengan harta, tenaga, waktu.
Bersyukur Kariska punya banyak sahabat siap dana. Saya tersentuh  lihat daftar donasi yang masuk disambut tangan tangan sahabat yang sudah siap mengeksekusi sesuai keahliannya masing-masing.
Ada sahabat yang biasanya mengurusi proyek-proyek besar  dari tower  gagah di pusat kota, namun dengan ihlas mau bersa'i antara toko bahan bangunan ke lokasi pengecoran, menyatu dengan para santri . Masya Allah.

Sahabat lain yang biasa sibuk kasih kuliah Ekonomi Islam, berkedudukan penting di Bank Syariah, mau mengelola aliran dana hingga  mempertanggung jawabkannya dengan detil.
Belum lagi peran di balik layar yang namanya enggan disebut. Padahal organisasi yang dipimpinnya sering nampak di media saat bencana alam atau konflik luar negeri. Dan masih ada lagi.

Kita tahu banyak proyek amal yang besar-besar di tempat lain. Namun ukuran bukan utama, apa yang di depan mata itulah tawaran Allah. Kecil ukuran mata biarlah, asal besar di mata Allah.
Semoga semua usaha ini jadi washilah di yaumil hisab. Amiin ya Rabb.


Acara formilnya singkat saja. Anna selaku ketua Panitia membuka disusul pembacaan  kalamullah oleh seorang santri.
Sambutan awal disampaikan oleh Ustad Adul Aziz.  Ustad sabar pemersatu anak anak  pemulung. Rumah kecil dan penghasilan ngojeknya direlakan asal mereka mau mengaji , jauhi maksiat di jalan dan menghambur waktu.
 Mereka  punya semangat belajar sekarang. Penampilan bikin adem dengan baju muslim bersih duduk rapih di belakang pak Ustad. Diantaranya sudah bisa jadi juri tahfiz, sebagian lagi tengah bersiap mengikuti Paket C Gratis atas kelapangan dan kemudahan dari Bang Fuddin yang alhamdulillah berstatus sebagai Kasi Dikmen dan Paud Dikmas, Sudin Pendidikan Kepulauan Seribu.




Pada sambutan ke dua, Bang Cheppy ( Muhammad Syahrial) berpesan agar santri tetap semangat. Ingat  akan janji Allah  untuk hambaNya  yang ihlas berjihad ilmu dan harta di jalan Allah.
Selain anggota Kariska beliau juga penasehat yayasan Attaubah ini. Bermula dari tugasnya menyebar luaskan infaq karyawan Gobel tempatnya bekerja. Barakallah.
Pahalanya besar ya, sampe dapet balasan bisa mempersunting putri pak Boss. :)

Anak anak peserta lomba mewarnai sudah resah ingin cepat mulai. Tapi crayon masih dalam perjalanan. Untuk mengisi waktu kosong saya dan Hiromii diminta kasih pesan. Haha, nggak siap! Kok kayak Tahu Bulat Digoreng dadakan, ya?

 Yang kami sampaikan intinya...
 Apa pun yg kita lakukan hendaknya selalu dalam rangka syukur.
Saat melihat gambar tumbuhan ingat akan kekuasaan Allah.
Dalam kecantikan warna  ingatlah bahwa Allah maha indah dan menyukai keindahan.
Bisa pilih warna artinya indera penglihatan kita sehat. Jemari lincah bergerak tanda sayang Allah dengan mengizinkan otak mengatur saraf halus hingga kita bahagia melakukan.
Dapat berkumpul pun atas kemurahan Allah. DigerakkanNya hati para donatur, di mudahkan langkah penyelenggara. dan lain-lain.
Meski di antara bukit2 sampah hati harus syukur, bukankah di belahan pulau lain saudara-saudara kita tengah bersedih kehilangan keluarga sementara perut kosong berhari-hari?


Masih ada sisa waktu. Beruntung ada Nadia puteri bungsu Bang Fuddin, mahasiswi keguruan jurusan PAUD. Cocok betul memimpin acara ceria.
Terimakasih Nadia, sudah sedia jadi "Panitia Cabutan". Semua gembira lihat permainan seru anak-anak. Saling mencari, kejar, dan memeluk kawan. Nggak terasa di parkiran berdatangan panitia lain.

Pukul 9 ibu ibu mulai belajar bikin keset. Karna Mbak Dorry batal hadir, saya jadi motivator "Cabutan". Ibu-ibunya enak sih, komunikatif banget jadi saya santai saja menyampaikan. Intinya sama dengan yang  disampaikan ke ibu-ibu dhuafa Klender sebelumnya.

Membuat sesuatu karya berdaya jual bukan hanya menambah uang belanja, tapi mengajarkan kemandirian, dan kreasi buat anak. Waktu jadi berkwalitas, hidup lebih fokus, dan terhindar dari ghibah.




Karna waktu pendek ibu ibu cukup puas belajar bikin Cempal ( Pengangkat Panci) dulu.
Saya, adik saya Dhany dan Vina murid di Klender yang sekarang sudah lihai sama-sama  bahagia lihat antusias mereka. Anak anak kecilnya sampai ikut bantu dan menyemangati.

"Bu,bu, cepetan doong! Yang lain sudah hampir jadi" Tangan mungilnya ikut pegang bahan.


Di ruang musholla anak anak sibuk memadu warna tanpa suara.
Sementara juri juri santri  serius menilai makhraj, tajwid, adab dan kelancaran hafalan. Pada sudut sudut lain masih ada peserta lomba yang menggunakan waktu tunggu dengan muroja'ah.




Para juri (Santri) cantik berembug nilai ahir



Keset jadi, lomba mewarnai juga kelar. Pembagian hadiah anak anak paling meriah. Salut deh, sama panitia yang kebagian tugas blanja blanji. Pinter dan tau betul selera anak-anak, dan ada unsur edukatifnya.
Bantal-bantal aneka rupa yang lagi nge-trend bikin suprise. Deg-degana menunggu siapa peraih juara yang bakal bawa pulang.  Tiap nama disebut, pecah suara mereka tanpa cemburu. Memancing tawa hadirin ikut seseruan. Apalagi acara dipandu Anna dan Achfa yang nggak kalah seru dengan anak anak.

Juzamma cantik yang semula diduga  hanya untuk juara hiburan ternyata  semua mendapat. Anak anak serentak tepuk tangan gembira. Apalagi ditambah goodybag cemilan.





Alhamdulillah satu satu acara usai. Bersyukur dari kejauhan lihat ibu-ibu menjinjing goodybag sembako dan hasil karya mereka.
Putra pak ustad bertubuh kecil mungil kelihatan  repot bawa 2 hadiah lomba dan 1 tas bingkisan.

Nggak ada pesta yang nggak usai, begitu kata orang. Kumandang azan menyisihkan semua kesibukan dan kepenatan. Usai sholat berjamaah dengan wajah segar, tenaga terbarukan, kami santap  bersama nasi bakar komplit nikmat  pesanan Bang Cheppy untuk selanjutnya pamit kepada keluarga pak Ustad dan para santri.
Insya Allah kembali lagi minggu depan untuk  melaksanakan janji ke dua.

Syukur dan pujian tak terhingga padaMu ya Rabb
Masih berkenan memberi waktu dan kemampuan untuk kami semua. Mohon ridhoMu.























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar