Sabtu, 26 Januari 2019

Mengunjungi Ibu Aisyah




Harusnya hari ini bertandang ke rumah seorang sahabat yang baru pulih dari sakit dan akan kembali ke New Zeland.
Rencana sudah  tersusun rapih sejak hari selasa. Jam 10 pagi ketemuan di Junction Mall Cibubur, bawa potlock makan siang biar nggak merepotkan.

Qadarullah, malam hari dapat kabar ia  harus bermalam di tempat  mahal berinterior studio apertemen mewah, tapi tetap namanya Rumah Sakit, nggak enak!
Belum boleh ditengok pulak krn jalani observasi.

Sekotak Pizza untuk dinikmati skarang tergeletak di meja teras Lotteria - Bogor  tempat titik temu.
Saya dan 2 teman akan mengunjungi ibu Aisyah yang namanya tengah viral di medsos.
Rencana bisa rubuh kapan saja ya.
Tarik jangkar, lalu layar yang berkeinginan.

Dulu saya heran ibu bapak seperti danau
kala keriaan telah ranum siap petik.
Sementara saya debur gelombang yang lena pada halusnya panggilan rembulan.
Cerita bisa berubah sedikit atau banyak. Biasa biasa saja atau  mencengangkan. Skenario Allah tetap terdepan dan akan terus berjalan meninggalkan kita yang terpana tak mengerti, terengah-engah. Mesti diakui niat dan amal  bukan properti kita.
Cari posisi tepat agar dapat sinyal, gunakan password.. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Timur Bogor mendung waktu kami susuri gang sempit .
Entah kenapa kami seperti diburu buru sesuatu sampai batal membeli susu di warung tempat bertanya tadi.
Mungkin sudah nggak sabar ingin ngobrol dengan bu Aisyah.

Beliau  dhuafa berwarga negara Colombia.
Memilih agama islam sejak menikah dengan suaminya asal Bandung. Pertemuan romantis mereka di atas kapal ahirnya ahirnya berujung pahit  sejak sang suami menikahi Asisten Rumah Tangga mereka. Dan lebih sakit waktu dipisahkan dari putri semata wayangnya.

Bak ditelan bumi mereka menghilang. Belasan tahun Bu Aisyah mencari dan berhutang. Pemilik mobil sewaan sampai terenyuh dan ahirnya mengihlaskan.

Usaha berbuah manis. Dan tetap manis meski harus menerima kenyataan sang putri berambut ikal legam, bermata boneka, kulit terang campur pink itu sudah lumpuh. Kaki bengkok karna lama dipasung ibu tiri.







Kami sampai di belokan ke 2, ada area  rongsokan tempat Ibu Aisyah Annisa menimbang dan terima hasil pulungannya. Lumayan buat makan dan mencicil bayar  hutang.

Seorang bapak turun tergesa dari motor. Entah kenapa dia bisa tangkap maksud kedatangan kami.
"Ibu, Bu Aisyah sudah dijemput mau ke Jakarta!"

Nggak pikir panjang, langkah nggak seiring lagi. Apalagi pas lihat mobil ambulans siap brangkat. Hahh!! Gagal! Gagal ketemu deh!
Ada kereta dorong mendekati ambulans, Ya Allah, izinkan sebentaaar saja kami menyapa  ibu dan anak itu. Sebentaar saja!
Tapi ibu Colombia itu nggak ada di sana.

Segera setengah lari kami  ke rumah kontrakan yang bersih meski di gang sempit. Ibu Aisyah di teras membelakangi kami. Dia sibuk mencari cari sandal.
Ya Rabb alhamdulillah. Seolah Engkau menahan dia 😢😢

Meski kesehariannya memulung, tumitnya halus, bersih putih. Kontras dengan jilbab panjang warna jingga tua. Begitu berbalik wajah cantiknya tersenyum. Wajah khas Amerika Latin yang sering mengisi pentas pentas Miss Universe.
Seolah baru kemarin kami berpisah, seolah sudah bertemu sebelum turun ke rahim ibu kami, de javu!
Rasanya saya pernah ada di rangkaian kisah ini sejak di ujung gang dekat warung tadi!

Berulang ulang kata maafnya. Ingin lebih lama lagi bersama kami sebenarnya.

"Doakan saya,Bu. Hari ini saya mau ke Kantor Imigrasi dan Rumah Sakit. Semoga saya cepat dapat status WNI. Saya cinta dan mau tinggal di negeri ini saja demi ibadah dan anak.  Saya tidak  hiraukan permintaan keluarga besar  untuk pulang ambil warisan asal pindah ke agama lama!"

Dengan penuh syukur dia terima titipan donasi teman teman. Matanya ke arah tetangga yang melepas dengan lega bahagia krn ahirnya datang bantuan ambulans dari BAZIS.

"Bu, maaf saya bawa pizzanya ya"
Ia sederhana, adab membentuknya menjadi lux , cemerlang.

Alhamdulillah meski semua dilakukan dengan teegesa gesa namun sempat menulis nomor rekening sementara dan nomor WA org yg ia percaya. Status WNA belum memungkinkan buka rekening Bank.

"Jangan kirim ke rekening atas nama ZAINAL ABIDIN ya bu. Dia penipu!"Pesannya tegas.

Sambil jalan kami saling peluk, menguatkan dan saling mengingatkan. Ah, islam itu indah banget ya. Allah maha indah, menanamkan keindahanNya di tiap hati. Menggugurkan air mata sahabat saya yang sangat sensitif.

"Ibu..Hapus air mata ibu! Kita kuat, sandaran kita kuat, Allah kita maha kuat!"

"Saya haru melihat ketegaran ibu" Kata teman saya lirih.

Bu Aisyah pamit sambil peluk seorang ibu,   tetangga 1 dinding. Pizza telah masuk ambulans begitu juga sajadah bersih dan tasbih teman akrabnya.

Perjalanan Pizza cukup panjang ya. Dari Cimanggis harusnya ke Cibubur dimakan oleh pasien A. Eh, malah jadi rejeki pasien B di kota lain.

Semoga Allah mudahkan urusan beliau dan melapangkan rizkiNya.
Luaskan dada saja. Penulis skenario tahu ke mana arah layar  membawa Ibu Aisyah. Toh perjalanan kita pun bukan tak mungkin akan mencengangkan.

Jika teman mau bantu, bisa lihat IG saya ya..














Tidak ada komentar:

Posting Komentar