Sabtu, 02 Maret 2019

Salah Satu Bentuk Rehat









Seorang Biksu Ajahn Bram bilang, musuh terbesar orang-orang yang bekerja adalah stress.
Yang dimaksud stress bukanlah dari pekerjaan itu sendiri melainkan stress proses bekerja yang terus menerus tanpa membiarkan diri beristirahat sesekali.

Ia menyamakannya dengan mengangkat sebuah cangkir. Cangkir itu ringan dan mudah dipegang tapi konyol untuk memegang dan menahannya terus menerus. Beban ringan jadi berat, setelah beberapa lama tagan bergetar dan pegal.
Meletakkan cangkir sejenak akan menghimpun tenaga. Itulah rehat.

Rehat mengasyikkan di jaman kuliah adalah bersendiri di kamar. Baca novel pilihan diiringi lagu lagu favorite kompilasi yang teman penyiar saya rekam.
Kini, bersama dengan orang lain pun bisa rehat.

Saya ada di gedung YKKAI bersama anak-anak berkepala plontos berbagi keriangan. Mereka penderita kanker lama dan baru yang rutin kemoterapi di RS Cipto Mangun Kusumo dan RS Gatot Subroto.

Tentu sulit bagi orang-orang daerah  yang membawa anaknya berobat ke kota besar tanpa ada saudara.  Kontrak rumah berbulan bahkan bertahun perlu biaya besar. Belum lagi biaya makan sehari hari,   transportasi bolak balik  ke rumah sakit untuk kontrol dan jalani kemoterapi. Sementara beberapa bapak   harus merelakan kehilangan pekerjaan karna menemani anak.


Tinggal di gedung 4 lantai ini hanya dipungut biaya 5000 rupiah sehari, untuk makan sama-sama.
Dapur bersih modern di lantai dasar terkesan hommy, bersisian dengan ruang makan, panggung kecil dan taman in door.



Kalau ketemu ibu/bapak  berseragam kuning, mereka itu orang tua pasien tengah piket . Tugasnya menerima tamu, masak,  beri pelajaran di kelas home schooling hingga antar kami meninjau kamar pasien.
Kamar sehat cukup cahaya matahari dan udara. Diantar juga ke ruang kelas modern lengkap dengan alat-alat musik. *Jadi kepengen ngajar ngaji di sni! :)

Menurut bu guru, anak anak diusahakan tak kehilangan waktu berharga meski sakit.
Di dalam kendaraan gratis menuju RS sang guru mendampingi. Anak anak bisa belajar sambil tunggu antrian kemo.







Di lantai  berkarpet kami kumpul.
Ada Fachri umur 3 tahun penderita kanker hati terus mengikuti saya dengan sepedanya. Ketawa terbahak kalau saya berpura-pura takut atau kaget tersenggol sepedanya.
Denis 11 tahun (Kanker Darah)  selalu bersama ibunya. Senyum senang dapat topi rajutan bikinan teman-teman saya dari Komunitas Merajut Bogor.
Sementara satu anak lagi (Saya lupa namanya)  berbaring lemas di pangkuan ibunya. Cuma bisa lihat teman-teman melantunkan lagu D'masiv sambil makan biskuit.

Tak ada manusia 
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali 
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah 
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini 
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa adanya
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik..






Kalau  anak  lemas seperti itu  tandanya baru kelar kemo, kapas masih lekat di lekukan tangan.
Ibunya bisik-bisik, "Apa ada kelebihan hadiah? Anak saya tidak bisa ikut mewarnai tapi ingin dapat hadiah juga"
Terlanjur ngobrol akrab ahirnya pertanyaan yang sudah saya bendung jebol juga. 
Putranya terserang kanker sejak usia 7 tahun dengan gejala muntah-muntah biasa hingga kaki tak mampu menopang. Vonis kanker tentu bikin kaget.
Beliau senyum namun ada genangan di matanya . Ingat bayi di kampung merindu belai hangat juga.

Jangan membayangkan rumah ini selalu penuh duka. Mereka kuat, ihlas terima keadaan,dan makin intens saling memberi  sayang dan perhatian. Perasaan senasib mengokohkan asa ketimbang merasa "Berbeda" di luar.
Sampai-sampai seorang ibu  memilih  tetap tinggal dan melayani meski anaknya sudah wafat. 

Banyak teman merasa iba melihat foto foto aplotan saya di grup sosial. Ingin sekali memberi banyak buat mereka. Padahal kita tak akan pernah bisa memberi sebab terlalu banyak yang kita dapat di sini.
Rehatlah di sini. Melepas diri dari penatnya tuntutan hidup dan ribuan tanya orang di luar sana.
Kapan kerja? Kapan kawin? Kapan punya anak? Kapan mantu? Hingga lupa tiap detik adalah permata. Kasih dan keindahan Rabb meliputi segala meski dalam kepahitan.

Sepertinya dengan tambah usia bentuk rehat jadi beragam, tak hanya bersunyi sendiri.
Membuat topi rajutan dan boneka untuk 60 anak lalu berada di planet berbeda ini dengan syukur akan menjernihkan pikiran. Dan bagi "Pemulung Amal" pastinya akan tumbuh lagi sel ide baru.
Cari rehat yang bisa menimbulkan syukur. Sebab dengan syukur baru kita bahagia. Bukan sebaliknya.

Mungkin ada yang ingin berkunjung?
Alamatnya di Jalan Percetakan Negra no 11 Jakarta Pusat.
Dalam pandang saya, sumbangan ilmu, uang dan bahan makanan lebih mereka butuhkan, meski apa saja yang tamu bawa mereka terima dengan ihlas.
Dekat musholla saya lihat sendiri, barang barang sumbangan bertumpuk. Kata ayah Fachri bisa penuhi kamar bila dibagi, dan cukup repot saat dibawa pulang nanti. Hmm, coba buka Bazaar saja ya biar jadi uang.

Sempat tanya pada pimpinan yayasan, apa diperkenankan menyumbang uang?
Jawabnya, boleh. Tapi semua harus dapat dan hanya pada hari-hari raya.
Kenapa? Karna jika mereka menerima uang hawatir belanja makanan di luar. Sementara anak-anak ini sangat dijaga makanannya dari MSG.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar