Selasa, 07 Mei 2019

Kapan Zikir?


Ada teman grup WA ajak zikir bareng pada jam, jumlah dan bacaan yang ditentukan.
Ide bagus ya, dari pada isi WA cuma nge-share  politik, candaan, atau gambar yang nggak guna.

Tapi sekarang saya nggak bisa lagi zikiran dengan komando.

Tahun 90-an pernah ikut zikiran Ustad Arifin waktu beliau baru ngetop. Pagi buta berangkat, mbela-mbelain nginep di rumah sahabat karib demi tempat duduk di teras rumah Ustad.  Nikmatnya puncak zikir bersama dengan meluncurnya buliran bening penuh pengakuan, perasaan hina di antara isak ratusan jamaah . Sapu tangan  saja sampe lepek! Mustinya bawa handuk kecil, kali ya!

Waktu jadi jamaah Ulil Albab Bogor pun ada berzikir bareng. Pengajarnya Nurcholis Madjid, ustad-ustad dengan nama belakang Shihab,dan Nassaruddin Umar profesor yang sekarang  jadi imam masjid Istiqlal setelah pensiun dari Wakil Menag.

Kami menghabiskan malam tahun baru dengan itikaf , zikir mesjid unik cantik seberang Ratu Plaza, Pusat Jakarta. Suasana haru saat baca pujian kepada Allah dan keluarga Rasulullah.

Menuju puncak malam makin seru. Isak tangis memadati ruang bercat ungu itu sementara ustad Husein Shihab menambah dupa di sudut-sudut ruang. Diktat tebal saya membasah.  Bagian ahir mengisahkan bagaimana cinta Rasulullah pada ummat saat menjemput ajal. Bagaimana duka Rasul andai ia hadir kala cucunya terpenggal karna fitnah

Beberapa bulan setelah itu barulah saya tau, saya telah masuk dalam kegiatan  jamaah syiah! Astaghfirullah.

Lepas itu kapok melakukan kegiatan ibadah ikut-ikutan tanpa ilmu.
Saya takut nggak bisa berzikir tanpa seseorang . Saya takut nangisnya saya karna terkondisikan dengan isak orang orang di sebelah.

Air Mata Zikir

Ia bisa  meleleh di mana saja, nggak harus di atas sajadah.  Ketemu potongan ayat Quran yang menohok, dengar lirik lagu relijius lantunan pangamen di angkot, atau cuma gara gara lihat tukang pulung melipat sarung dan sajadah kumalnya dengan hati hati lalu disisipkan pada dinding gerobak. Dengan wajah segar wudhunya dia siap berjibaku lagi dengan kehidupan.

Kapan Zikir?

Zikir sepanjang waktu. Reflex memuji Pemilik Keindahan begitu lihat cantiknya alam. Memikirkan molekul molekul ajaib pada air dan udara, klorofil pada tumbuhan, sel pada tubuh, keseimbangan yang membuahkan keindahan.
Lihat ombak biasa saja, tapi dalam gerakan super lambat dia seperti lukisan kristal artistik!

Zikir memikirkan keteraturan garis edar benda langit. Begitu tepat dan telitinya hitungan Allah membuat jejak Si Venus dan Si Mars menjadi lukisan rumit super keren! 


Tapi zikir bisa juga  terucap di waktu mengerikan.
Pernah zikir dengan deg degan karna kebagian driver Grab Bike yang hobby zig zag. Berharap kalimat tauhid yg terahir terucap kalau "Kenapanapa" 😣😣

Zikir bisa timbul  dalam kesebalan. Lihat orang marah marah di depan muka, Seolah Allah lagi bilang..."Itu salah satu suksesnya kerjaan iblis!" Tersadar bahwa cuma Allah yang Maha Lembut,  Maha Cinta nggak egois meski pantas, Maha Santun.

Zikir  timbul waktu lihat pemandangan menjijikan..
Ada campuran sisa makan di sink cuci piring... Segitu aja kegembiraan melahap? Bangga makan di tempat nge-top dan mahal? Padahal dalam perut menyatu menjijikan.

Atau lihat air got hitam, bau busuk, permukaan penuh gelembung lumut hijau berlendir, sekali kejeblos nyeselnya seminggu.
Tapi mikir.. Itu tempat ternyaman dibanding neraka yang pakek tambahan didih, nanah, dan duri duri yang mencabik tenggorokan hingga usus.
Nauzu billahi min zalik!

Ringkesnya, kegiatan zikir banyak macamnya dan  sepanjang waktu, tergantung  adegan hidup yang Allah suguhkan hari itu.
Zikir dalam fikiran sederhana saya adalah menyampaikan perasaan kepada Allah.

Ingat curhatan teman saya.
"Manager gue yang baru ini bener bener  bikin gue jadi relijius!!!"



*istighfar melulu

Note:
Untuk zikir lisannya bagus baca zikir pagi dan petang. Benar benar diambil dari hadist shaheh yang masyhur. Kalau baca terjemahannya "Ngena" banget!
Allah Maha tahu apa yang kita butuhkan.

Ada 2 zikiran pendek yg biasa kita lakukan seusai sholat dengan pilihan jumlah.
Yang baru latihan sedikit2 saja dulu. Yang penting rutin.
Kalau mau 100x bisa lakukan sambil beraktifitas. Biasanya saya nggak hitung lagi. Mending lebih dari pada kurang.
Seenaknya kita saja, lakukan dengan tenang dan nggak kayak orang kejar setoran.
Zikir semacam ini biasanya saya lakukan saat dalam kendaraan, karna mata nggak sanggup lagi membaca quran dengan guncangan.

Semoga manfaat.



Minggu, 05 Mei 2019

Tetangga Dunia Akhirat, Amiin Ya Rabb.



Entah dengan cara apa mengabadikan nama bapak saleh ini?
Beberapa kali saya ingatkan anak anak jangan pernah melupakan jasa2nya.

Saat saya masih jadi ibu muda 9 bulan perkawinan, istrinya sesekali datang menemani. Faham kalau ibu hamil muda enggan masak, dia bawakan Gudeg masakannya yang sering dipuji warga.
Faham ibu muda masih minder bergaul dengan ibu2 senior, faham suka lonely kangen orang tua dan harus rela 12 jam menunggu suami pulang kerja. Bu Ondy datang sekedar ngobrol ringan.

3x mules mules mau melahirkan, Pak Ondy mengantar sampai Bidan. Istrimya yang mengurut urut punggung, menunggu sampai lahiran. Dia gantikan ibu saya yang sedang panik cari info apakah bapak termasuk korban terowongan Mina. 

Anak ke 2 , anak ke 3, pun pak Ondy antar dengan mobil Kijang barunya warna coklat susu. Ya Allah, balas segala kebaikan dan keihlasannya dengan tempat mulia dan  berkahilah keluarganya.

Sering malu, berharap supaya nggak ada kejadian apa apa lagi yang merepotkan mereka.  Tapi tetap bantuannya datang di awal. Waktu anak pertama kejang step, anak ke 3 patah tangan, anak bungsu kena muntaber, titip anak anak waktu keguguran hingga masalah mesin cuci baru yang lampu sensornya kedap kedip menolak kerja.

Yang bisa saya lakukan jauh dari sedikit. Nggak bisa disebut  balasan sih, sebab sekedar memberi hak tetangga, wajar2 saja. Nggak ada istimewanya.
Dalam keadaan penuh harap saya minta Allah beri kesempatan. 

Cucu pertama mereka lahir. Alhamdulillah sepanjang masa balitanya rumah kami jadi rumah ke 2nya. Dia  lucu, hiburan keluarga sekaligus ajang anak anak belajar komunikasi yang baik dan mengolah emosi.
Melek mata pagi pagi balita mata besar kulit terang dan rambut ikal itu sudah minta diantar ke rumah saya. Kadang kebablasan tidur siang di depan tv dan ngamuk kalau dijemput kakeknya.

Setahun sudah Pak Ondy pergi. Harusnya waktu itu kami maklum karna cincin sudah lama terpasang di urat jantung. Namun karna sehari sebelumnya dia segar dan ngobrol2 biasa, agak syok juga.

Sekarang tinggal kenangan harum. Ingat suara pintu pagar setiap azan berkumandang, gesekan sapu lidi di teras, kebiasaannya menampung air hujan, panaskan mesin mobil, berdiri di  antara janda2 dhuafa membagikan sedekah, bersepeda pagi dan masih banyak lagi

Sesekali saya mampir ke kampung terahir pak Ondy, kebetulan dekat rumah dan selang beberapa nisan dari kedua mertua saya dan Ibu Ami yang bertahun membantu saya mengurus TK. 

2 hari lalu Ibu Ondy datang dg kursi roda.
Kangen katanya. Beliau minta saya datang ke rumahnya temani ngobrol. Pasti deh akan terulang lagi cerita tentang pesan Pak Ondy dan tentang sempat2nya  merapihkan peralatan jahit istrinya sebelum wafat.

Sebelum pisah Bu Ondy tertawa mengisahkan cucu pertamanya yang menolak dipanggil dengan sebutan "Aa" khas Sunda.
Dia ingin dipanggil Abang seperti dia panggil anak anak saya.  Alahamdulillah Oik baik, banyak belajar dari abang2nya di sini, katanya. Alhamdulillah..

Sudah niat nih...Insya Allah secepatnya akan saya serahkan video2 tentang Oik sejak balita hingga usia sekolah yang selama ini kami rahasiakan. Semoga jadi hadiah kejutan sekaligus kenang2an.

Ya Allah... Terimakasih sudah 25 tahun lebih Kau beri kami rejeki tetangga yang super baik. Kami bersaksi dihadapanMu kelak bahwa tak satu pun hak kami terambil. Tangan dan lidah mereka membuat hidup jadi penuh makna.
Luaskan dan terangi kuburnya. Himpun ia kembali bersama keluarga di dlm JannahMu.
Nanti kita tetanggan lagi di sana, ya Pak...😀 Amiin ya Raab.