Minggu, 05 Mei 2019

Tetangga Dunia Akhirat, Amiin Ya Rabb.



Entah dengan cara apa mengabadikan nama bapak saleh ini?
Beberapa kali saya ingatkan anak anak jangan pernah melupakan jasa2nya.

Saat saya masih jadi ibu muda 9 bulan perkawinan, istrinya sesekali datang menemani. Faham kalau ibu hamil muda enggan masak, dia bawakan Gudeg masakannya yang sering dipuji warga.
Faham ibu muda masih minder bergaul dengan ibu2 senior, faham suka lonely kangen orang tua dan harus rela 12 jam menunggu suami pulang kerja. Bu Ondy datang sekedar ngobrol ringan.

3x mules mules mau melahirkan, Pak Ondy mengantar sampai Bidan. Istrimya yang mengurut urut punggung, menunggu sampai lahiran. Dia gantikan ibu saya yang sedang panik cari info apakah bapak termasuk korban terowongan Mina. 

Anak ke 2 , anak ke 3, pun pak Ondy antar dengan mobil Kijang barunya warna coklat susu. Ya Allah, balas segala kebaikan dan keihlasannya dengan tempat mulia dan  berkahilah keluarganya.

Sering malu, berharap supaya nggak ada kejadian apa apa lagi yang merepotkan mereka.  Tapi tetap bantuannya datang di awal. Waktu anak pertama kejang step, anak ke 3 patah tangan, anak bungsu kena muntaber, titip anak anak waktu keguguran hingga masalah mesin cuci baru yang lampu sensornya kedap kedip menolak kerja.

Yang bisa saya lakukan jauh dari sedikit. Nggak bisa disebut  balasan sih, sebab sekedar memberi hak tetangga, wajar2 saja. Nggak ada istimewanya.
Dalam keadaan penuh harap saya minta Allah beri kesempatan. 

Cucu pertama mereka lahir. Alhamdulillah sepanjang masa balitanya rumah kami jadi rumah ke 2nya. Dia  lucu, hiburan keluarga sekaligus ajang anak anak belajar komunikasi yang baik dan mengolah emosi.
Melek mata pagi pagi balita mata besar kulit terang dan rambut ikal itu sudah minta diantar ke rumah saya. Kadang kebablasan tidur siang di depan tv dan ngamuk kalau dijemput kakeknya.

Setahun sudah Pak Ondy pergi. Harusnya waktu itu kami maklum karna cincin sudah lama terpasang di urat jantung. Namun karna sehari sebelumnya dia segar dan ngobrol2 biasa, agak syok juga.

Sekarang tinggal kenangan harum. Ingat suara pintu pagar setiap azan berkumandang, gesekan sapu lidi di teras, kebiasaannya menampung air hujan, panaskan mesin mobil, berdiri di  antara janda2 dhuafa membagikan sedekah, bersepeda pagi dan masih banyak lagi

Sesekali saya mampir ke kampung terahir pak Ondy, kebetulan dekat rumah dan selang beberapa nisan dari kedua mertua saya dan Ibu Ami yang bertahun membantu saya mengurus TK. 

2 hari lalu Ibu Ondy datang dg kursi roda.
Kangen katanya. Beliau minta saya datang ke rumahnya temani ngobrol. Pasti deh akan terulang lagi cerita tentang pesan Pak Ondy dan tentang sempat2nya  merapihkan peralatan jahit istrinya sebelum wafat.

Sebelum pisah Bu Ondy tertawa mengisahkan cucu pertamanya yang menolak dipanggil dengan sebutan "Aa" khas Sunda.
Dia ingin dipanggil Abang seperti dia panggil anak anak saya.  Alahamdulillah Oik baik, banyak belajar dari abang2nya di sini, katanya. Alhamdulillah..

Sudah niat nih...Insya Allah secepatnya akan saya serahkan video2 tentang Oik sejak balita hingga usia sekolah yang selama ini kami rahasiakan. Semoga jadi hadiah kejutan sekaligus kenang2an.

Ya Allah... Terimakasih sudah 25 tahun lebih Kau beri kami rejeki tetangga yang super baik. Kami bersaksi dihadapanMu kelak bahwa tak satu pun hak kami terambil. Tangan dan lidah mereka membuat hidup jadi penuh makna.
Luaskan dan terangi kuburnya. Himpun ia kembali bersama keluarga di dlm JannahMu.
Nanti kita tetanggan lagi di sana, ya Pak...😀 Amiin ya Raab.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar