Selasa, 18 Juni 2019

NEGERI KEBENARAN


oleh Idries Shah

Ada seseorang yang ingin berahlak baik, arif bijaksana, meski ia tahu manusia tak ada yang sempurna.
Ia pun pergi mencari Guru Zaman yang sejati. Banyak kitab-kitab yang telah dibacanya dan banyak kalangan-kalangan yang telah diterjuninya, sehingga ia dapat mendengar ucapan-ucapan dan menyaksikan perbuatan-perbuatan dari berbagai guru. Dilaksanakannya perintah-perintah yang keras beserta latihan-latihan spirituil yang sangat menarik hatinya.

Ia sangat gembira karena mendapatkan pengalaman-pengalaman. Namun kadang-kadang ia bingung karena ia sama sekali tak tahu tingkatan apa yang telah dicapainya dan dimanakah atau kapankah pencariannya itu akan berakhir.

Pada suatu hari ketika sedang mengkaji segala tingkah lakunya ia mendapati dirinya telah berada di dekat rumah kediaman manusia-manusia arif bijaksana yang sangat terkenal. 
Di dalam rumah itu ia bertemu dengan Khaidir, penunjuk-jalan rahasia yang menunjukkan jalan ke arah kebenaran.
Khaidir membawanya ke suatu tempat di mana ia dapat menyaksikan manusia-manusia penuh duka dan sengsara.

Kepada mereka ia bertanya, siapakah kalian ini sebenarnya?
Mereka menjawab:

 "Kami adalah manusia-manusia yang tidak mengkuti ajaran-ajaran sejati,  tidak setia kepada tugas yang dibebankan ke atas pundak kami, dan kami hanya memuliakan guru-guru yang kami angkat sendiri."

Kemudian ia dibawa pula oleh Khaidir ke suatu tempat di mana setiap orang mempunyai wajah yang berseri-seri dan berbahagia. " Siapakah kalian sebenarnya?"

Mereka menjawab:
 "Kami adalah manusia-manusia yang tidak menuruti petunjuk-petunjuk jalan yang sebenarnya."

"Tetapi bila engkau telah mengabaikan petunjuk-petunjuk itu mengapa kalian bisa berbahagia?" bertanya si pengelana.

"Karena kami lebih senang memilih kebahagiaan daripada kebenaran. Seperti orang-orang yang memilih guru-guru mereka sendiri sebenarnya memilih kesengsaraan pula." Jawab mereka.

"Tetapi bukankah kebahagiaan itu adalah cita-cita yang paling tinggi dari ummat manusia?" bertanya pula si pengelana.

"Tujuan yang terakhir dari ummat manusia adalah kebenaran. Kebenaran itu lebih daripada kebahagiaan. Namun seseorang yang telah mendapatkan kebenaran dapat pula memiliki perasaan-perasaan yang bagaimanapun ingin sesuai dengan keinginannya.

Kami telah berpura-pura bahwa kebenaran itu adalah kebahagiaan dan kebahagiaan itu adalah kebenaran. Orang-orang percaya kepada kami, termasuk engkau sendiri. 
Padahal kebahagiaan akan memenjarakan dirimu sebagaimana yang dilakukan oleh kesengsaraan."


Kemudian sang pengelana rnenemukan dirinya telah berada kembali di halaman itu dengan Khaidir di sisinya.

"Aku akan mengabulkan sebuah permintaanmu," kata Khaidir.

"Aku ingin tahu, kenapa aku gagal dalam mencari dan bagaimana caranya agar berhasil?" jawab si pengembara.

"Engkau telah menyia-nyiakan seluruh hidupmu," kata Khaidir, "karena engkau adalah manusia pembohong. Sebenarnya engkau mencari kepuasan pribadi dengan dalih mencari kebenaran."

"Namun aku sedang mencari kebenaran itu ketika aku bertemu denganmu. Dan hal ini tak terjadi terhadap setiap orang."

"Ya, engkau telah dapat menemuiku karena ketulusan hatimu cukup besar untuk menginginkan kebenaran demi kebenaran itu sendiri walaupun untuk sesaat saja. Ketulusan hatimu yang sesaat itulah yang menyebabkan aku datang untuk memenuhi keinginanmu"


Pengelana merasakan keinginan yang menggelora untuk menemui kebenaran meskipun ia akan tenggelam. Namun Khaidir telah beranjak pergi dan ia pun mengejarnya.

"Jangan engkau ikuti aku ", seru Khaidir, "aku akan kembali ke dunia yang penuh tipu, karena disitulah  aku seharusnya berada untuk melakukan tugasku!"

Ketika si pengelana melihat ke sekelilingnya, sadarlah ia bahwa ia tak lagi berada di halaman rumah sang guru arif bijaksana tetapi sedang berada di tengah-tengah negeri kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar