Sabtu, 21 September 2019

Claudia Emmanuella Santoso





Gadis sederhana berambut panjang asal Cirebon. Wajah tanpa polesan, segaris lipstik pun tidak.
Berjuta mata terpaku menunggu suaranya.
Entah kekuatan dari mana yang mampu mendobrak rasa minder orang  Asia ini di laga adu suara Eropa ?
Langkahnya tenang dan lembut selembut gaun beludru yang menutup lengan.
Judul lagu masih asing, bikin tambah penasaran sajian apa yang akan dia beri untuk 4 juri Jerman .
Di sudut stage seorang sahabat memegang notebook. Lewat skype keluarga di Cirebon menyemangati dan berfoa. Dada mereka pasti bergemuruh melebihi saya.

Never Never Again adalah petikan dari sinema nge-hit  tahun 2017.
Nada ceria kah?  Atau seromantis back sound  film2 yg dihiasi vokal  Phil Collins dan Elton jhon?
Eh, sudah lama banget saya tdk nonton bioskop, hehe  takut kalau malaikat maut tiba tiba dapat tugas menjemput saya di sana.

Jeda waktu cukup panjang sejak gadis itu berjalan, berhenti dan menatap juri, tenang ia memastikan mikrophon pd posisi tepat, lalu  samar kedengaran  4x ketukan sebelum tuts piano disentuh.

Suara lembut membuai.
..Hening.

I'm trying to hold my breath...

Lirik pertama sudah membawa saya ke alam rasa dia
denting henti ... suara gadis  menyelam dengan cantik ke semua hati.

ku mencoba menahan nafas..


  Kadang lagu tak hanya lagu. Ia dapat  menjelma jadi puisi indah di telingan .

Can't late this moment end..

Gilak! suara rendahnya terkontrol lurus! Lalu menyambung dengan nada harap penuh cinta...

Take my hand.

Mulai menyeret perasaan perempuan2. Tak hanya si  juri cantik itu!
Serasa  kami lah yg mengulurkan tangan pada kekasih pujaan sambil bilang

Aku tak sanggup
membiarkan moment ini berlalu
Tidakkah kau dengar?
Gema mimpiku semakin membahana

Semua kilau
Seluruh gemintang

Semua tak pernah cukup

Menara emas terlalu sedkit
Tangan mampu menggegam bumi
Tapi semua tak akan pernah cukup
 Tak akan pernah...
Tak akan pernah...

Vibranya  tak tajam, mengayun halus  meski ke high not !
Dan yang bikin salut,  dia tak terpengaruh suasana sekitar. Hanya asyik berenang di gema mimpi tadi. Hentakan tombol juri pertama yang cukup bikin saya kesal karna takut mengganggu konsentrasinya, ternyata tak mempengaruhi kestabilan suara Claudia Immanuela Santoso..

Coba perhatikan bagaimana dia beru tekanan di lirik Never...Never ...Enough! Lantang tapi mbulet dan masih tetap kontrol.

Tiap penyanyi punya ciri has masing  masing dalam mengolah rasa ke dalam lagu .
Claudia punya sesuatu yang tak ada pada penyanyi orignal ( Loren Allred)  mau pun penyanyi di film ( Jenny Lind)  Claudia lebih dalam penjiwaannya. Perasaan orang Asia memang tdk bisa dibohongi yaa...lebih halus, lebih sensitif.
Tampilannya beri pesan, bhw pernak pernik  kemasan adalah penipu dan perusak konsentrasi.

Detik detik ahir bakal temui nada tinggi. Apa sanggup?
Dengan manis, tidak jomplang, tanpa bocor, Claudia beralih dari  (Head Voice) ke Falset voice tanpa mampir dulu ke chest voice. Manteepp!! Layaknya sungai tenang menerima air dari puncak gunung.

Terimakasih Claudia pembawa nama bangsa di sela kesibukan menuntut ilmu.
Tampil memukau. Ada madu dalam lagumu sejak lantunan awal  hingga pecah air matamu.
Jarang ada  juri menangis dan hadirin minta ulang.
Kini kau bukan lagi perantau kesepian. Banyak mata dan harapan tertuju padamu.

Ah, gara gara kamu pekerjaan rumah saya terbengkalai, asik nonton film lama ..THE GREATES SHOWMAN. Menyaksikan dua tangan bertaut di sana.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar