Senin, 28 Oktober 2019

Tulisan Tak Bernama


Entah siapa yang menulis, saya senang dan berulang membacanya.
Semoga anak anak faham ..
Orang tua punya cara tersendiri dalam mengungkapkan cintanya.



*SEBUAH KISAH TENTANG CINTA*
Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk².
Sementara di ruang tamu, ibu sedang ngobrol dgn anak perempuannya.
"Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan", kata ibu.
Aku mendengarkan ibu dengan heran.
"Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan.
Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki² tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang", kata ibu.
"Ibu memang sering menelponmu.
Tahukah kau, itu selalu ayahmu yg menyuruh dan mengingatkan.
Mengapa bukan ayahmu sendiri yg menelpon?
Dia bilang, "Suaraku tak selembut suaramu, anak kita harus menerima yg terbaik".
"Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang.
Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas.
"Alangkah cantiknya anak kita ya bu," kata ayahmu sambil menyeka air matanya.
Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah.
Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang.
Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yg kuminta.
Ibu heran. "Tidak jadi ke dokter?" tanya ibu. "Kapan² saja.
Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri"
Kata ayah.
Rupanya biaya ke dokter, uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan mengorbankan kesehatannya.
"Dulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar.
Kau tahu apa yg dilakukan?" tanya ibu.
Aku menggeleng. "Ayahmu sujud syukur sambil berdoa untukmu.
Air matanya membasahi sajadah.
Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu.
Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya.
Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu.
Lama sekali dia sujud sambil terisak.
Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu.
Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya".
Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi.
Dari kamar terdengar ayah batuk lagi.
Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.
"Kau habis menangis?"
Ayah menatapku melihat sisa air di mataku.
"Oh, tidak ayah!" aku tertawa renyah.
Ku pijit betisnya lalu pundaknya.
"Pijitanmu enak sekali seperti ibumu", katanya sambil tersenyum.
Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian.
Itulah pertama kali aku memijit ayah.
Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.
"Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku.
Nanti sore ayah kuantar ke dokter", kataku. Ayah menolak. "Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri".
"Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku", kataku berbohong.
Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter.
Tapi aku berbohong agar ayah mau kubawa ke dokter.
Aku bawa ayah ke dokter spesialis.
Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yg lebih murah. Aku hanya tersenyum.
Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga.
Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku.
Ibu bertanya setengah protes. "Dari mana biayanya?".
Aku tersenyum.
"Aku yg menanggung seluruhnya bu.
Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku.
Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah.
Aku bisa! Aku bisa bu!".
Kepada dokter aku berbisik; "Tolong lakukan yg terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya", kataku. Dokter tersenyum.
Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan erat untuk membayar keinginannya di stasiun dulu.
"Seringlah ayah menelponku, jangan hanya ibu", kataku.
Ibu mengedipkan mata sambil tersenyum.
Dalam perjalanan pulang, aku berfikir, berapa banyak anak yg tidak paham dengan ayahnya sendiri seperti aku.
Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.
Hari² berikutnya aku selalu berdoa
Namun kini dengan perasaan berbeda.
Terbayang ketika ayah bersujud pada hari pernikahanku sampai sajadahnya basah dengan air mata...betapa besar cinta kasih seorang ayah Tidaklah jauh berbeda dgn cinta kasih seorang ibu.
Semoga Allah masih memberikan waktu yg cukup, untuk aku bisa lbh lama lagi memijit kaki ayah, memeluk dan menumpahkan cintaku pada Ayah. Spt cintaku pada Ibu....aamiin..
Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shagiira...
Ya Allah ampunilah dosaku juga dosa orangtuaku, jagalah mereka seperti mereka merawatku di waktu kecil...
Aamiin

Jumat, 25 Oktober 2019

Pemaksaan di Angkot


Jadi, jam 5 sore tadi saya naik angkot ke pasar induk Bogor. Baru setengah jalan naiklah seorang bapak muda memperagakan dagangannya, alat masukkan benang ke jarum dengan cepat dan mudah. Ini manfaat buat bu ibu berkacamata plus kayak saya.
Saya beli doong, lalu tanya cara dan harganya.

Dia sodorkan 2 barang, "Nih,Bu... 10 ribu!'

"Saya mau alat masukkan benang saja, kalau jarum sudah banyak di rumah"

"Nggak bisa bu, Harus beli semua!"  Air mukanya mendadak galak

( Gimana sih? Demonya 1 barang tapi ngedadak keluarin 2 barang. Mau dagang apa meres?)

5 perempuan muda berhijab di sebelah saya sudah resah. Yang satu mukanya kepengen marah banget. Tapi karna saya tenang, dia perlahan tenang.
Sementara si pedagang makin kesal dan terus memuntahkan kata-katanya untuk saya,hususon!

"Coba mikir ! Kalo buat tukang ngamen mau ngasih. Kalo buat yang dagang nggak mau ngasih!"

(Mau sih, ngasih. Asal jujur dong dr awal. Kamu jual apa yang kamu peragakan. Pengamen masih ngehibur, nggak nodong kayak gitu! ) Saya jawab dalam hati.

Eh, dia ngelanjut.

"Denger ya bu! Banyakin sedekah. Jangan pelit-pelit. Mikir sampe rumah !!"
Lalu dia turun.

Lepas itu, semua penumpang legaaa. Tapi serentak kesal dengan macam macam komentnya.

"Haduuuh, untung ibu sabar" Kata yang persis duduk di sebelah kanan saya.

Sebenarnya saya bukan sabar sih, cuma saat dia ngoceh saya malah  asik mikir.
Kesian, dia bersandar pada sesuatu yang lemah. Yakin rejekinya dari barang, bukan Allah.
Andainya dia kasih pilihan buat pembeli, pasti mereka senang bahkan sengaja beri uang lebih .
Apa pun pekerjaan kalau ihlas akan baik untuk dirinya dan berimbas pada orang-orang disekelilingnya.

Perih?
Nggak juga.
Kalau ada orang yang menyakiti selalu saya niatkan semoga jadi penebus dosa yang tersembuyi. Mungkin kecil di mata saya tapi besar di mata Allah.

Apa saja selalu saya niatkan. Contoh lain kalau murid2 saya  ngeyel, pikiran saya otomatis ke masa sekolah dahulu. Semoga jadi penebus kesalahan-kesalahan saya pada  guru /dosen yang entah di mana mereka kini?








Kamis, 24 Oktober 2019

Tembang Malam




Tembang malam melintas perlahan
Menyeberangi jembatan kenangan
Meliuk tarian cinta, seiring irama rasa 
Kurasa cuaca bukanlah penghalang 

Aneka wajah di larik larik nada
Selendang lembut warna warni bertabur wangi kisah
Hijau melambaikan damai
Biru meluasnya rindu
Ungu gambaran kehangatan
Jingga nan syahdu tanpa luka

Ingin kembali bercumbu
Dengan ketulusan dan senyum dalam satu bingkai

Duhai wajah2 penuh cinta
Yang mengisi lembar catatan usia
Kita jangan dulu bertemu
Aku justru sedang menikmati rindu

Cintaku tak kenal jarak
Jarak hanya nama pohon!

Selasa, 15 Oktober 2019

Buat Yang Sedang Letih


Allah berkehendak mencabut rejeki /nikmat seseorang.
Kapan pun dalam sekejap Allah kuasa.
Gambarannya seperti  peristiwa  seorang ibu  di video. Naik motor kencang hingga hijabnya berkibar. Tiba-tiba terlempar ke aspal tak bergerak karna hijab terlilit.
Padahal jalan sepi! Baru beberapa menit lalu si  ibu cantik, sehat, segar itu meluncur dengan gagah.

Dahulu dikerumuni sodara. Tanpa halangan, tak perlu diraba, dia faham maksud tamu yang datang  dengan beragam ekspresi. Ujung-ujungnya pasti...

Kristal bentuk ikan di meja sudut harganya cukup untuk uang masuk kuliah. *Bukan kuliah subuh lho!
Perangkat makan sehari hari cuma sedikit orang yang tahu besaran harganya. Di rumah orang lain itu barang masih terpajang rapi dalam lemari kaca, minimal turun saat hari raya, itu juga berkali kali ingatkan ART supaya hati hati mencuci.

Bukan cuma tahu yang digoreng dadakan. Nasib pun bisa berubah dadakan.
Hanya secuil kesalahan memaksa pemiliknya harus terima seluruh harta terancam habis.
Salah memilih teman bisnis, salah perhitungan, salah memberi amanat, salah ambil keputusan.
Untuk menutup hutang harus berhutang. Hidup jelita jadi jelata.
Kalau Allah tega, pasti bisa dibuat lebih singkat lagi dengan koleksi caraNya yang tak pernah habis.

Kepada sahabat yang sedang letih berkeringat mengais rejeki sambil hitang hitung tuntutan hidup, syukuri saja! Ingat yang enak-enak.
Silahkan cari dan hitung harta yang kelihatan, tapi jangan lupa hitung rejeki yang tak kelihatan.

Alhamdulillah sapu tangan masih melap bening keringat.
Bagaimana kalau berwarna merah?
Allah membuka kran Kapiler, pembuluh darah  terkecil  ukuran 5-10 um yang mengalirkan darah ke kelenjar keringat. Dengan Maha Sayang dan CintaNya, Dia tahan agar tak merembes ke pori-pori kita.

Bagi bu ibu yang suka bengong cari inspirasi menu di depan gerobak tukang sayur. Yang kepanasan di dapur saat mengolah, bersyukur yang dimasak bukan batu seperti dhuafa masa khalifah Umar.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. *Dalam rangka menasehati diri sendiri









Rabu, 02 Oktober 2019

Tumpeng Mini Kreasi Unik Waroeng Tallubi







Hidangan tradisonail has Indonesia ini kerap tampil di acara ulang tahun atau syukuran di rumah, di kantor, atau hotel.
Lauknya yang beragam menimbulkan selera dan gembira memillih.
Apalagi paduan warna nasi kuning dengan warna warna  lauknya.

Nasi kuning bisa enak kalau bumbu dan harumnya  kompak.
Cukup sering makan nasi kuning yang dinobatkan sebagai salah satu ikon kuliner Indoneia oleh Menteri Pariwisata th 2013 ini, tapi jarang ketemu yang rasanya seenak harumnya.

Waroeng Tallubi mengirimi saya Nasi Tumpeng Mini imut ini. Baru tahu, ternyata mereka tidak cuma menawarkan cake, tapi juga nasi uduk, nasi kuning, bisa pesan online atau makan di tempat.

Kelebihan Nasi Tumpeng Mini Tallubi adalah

- Nasinya pulen dan tidak tercium bau kunyit mentah.

- Tempe Orek manis sedangnya  tidak terlalu kering  manis sedang.

- Ayam disuwir. Mudah dikunyah untuk penikmat lanjut usia

- Tampilannya menarik, cocok kita kasih buat suprise ultah atau khitanan

- Ada kesukaan saya,  keripik kentang !

- Sayurannya dipilih yang tidak mudah basi.







Supaya tidak penasaran harga dan menunya, saya infokan ya..

Tumpeng Mini 1 harga Rp 36.000 isi:

Nasi uduk/ kuning, ayam goreng kota, telur balado, mie goreng, kering tempe, tumisan sayur, lalapan,           keripik kentang.


Tumpeng Mini 2 harga  Rp 38.000  isi:

Nasi  uduk/ kuning, ayam panggang kota, mie goreng, sayur tumis, telur balado, kering kentang, lalapan, keripik kentang





Tumpeng Mini 3 harga Rp 40.000 isi :

Nasi uduk/Kuning, empal suwir, kering tempe, sayur tumis, perkedel, lalapan, telur balado, kering tempe.






Bikin kejutan tentu membuat kita senang, apalagi penerimanya.
Cuma perlu disiapkan dengan baik kemasan luarnya supaya lauk tidak bercampur dan si kerucut tumpeng tetap kokoh.
Atau bikin kejutannya mengundang mereka langsung? Silahkan buka link ini..

WAROENK TALUBI