Sabtu, 21 Maret 2020

Daun Kering



Bukan,
Bukan karna pohon tak memintanya untuk tinggal

Daun  bisa terhembus angin
Atau
Luruh perlahan 
Berbaring manis di sela rumput


Ada juga daun setia pada ranting
Memilih terbang beriring
maupun tumbang bersama pohon.

Saat bumi muram
Senja kehilangan jingga
Pucuk puspa merunduk

Selembar daun kering
Ringan kendarai angin
Sapa langit pucat
Lalu
Membuat lorong pelangi



Jumat, 20 Maret 2020

Cuci Tangan Jadi Kebiasaan




Sejak jaman iklan Mandomnya Charles Bronson dan majalah kecintaannya Kuncung sudah diajari cuci tangan yang benar.  Yang diajari bu guru cuma supaya hilangkan kuman tapi efeknya jadi waspada di mana saja.
Tiap pulang dari bepergian berasa kurang kalau belum cuci tangan.
Kepinginnya sih di teras rumah ada wastafel. Tapihh  saya dan pak suami berbeda kayakinan. Saya yakin tamu juga butuh, sementara beliau bilang cukup di dalam rumah.Yasud!

Di tempat umum anak anak masih ingat pesan saya. Pegang  pagar tangga penyeberangan di tempat yang nggak biasa orang  pegang, lebih baik di bagian bawah ( Jeruji ).
Kalau terpaksa harus makan dan tidak ada air cuci tangan, sisakan ujung makanan tempat jari menggenggam.

Tugas masak pun senang kalau siap air. Supaya kran nggak cepat aus karna keseringan diputar, saya sediakan  air 1 baskom ukuran sedang husus cuci tangan.

Melakukan sesuatu karna biasa sungguh beda dengan melakukan karna takut saat wabah datang.
Semoga kejadian luar biasa ini banyak yang dipetik. Punya kebiasaan baru yang bertahan meski sudah berlalu. Bukan sebatas cuci tangan doang. Tapi mau tutup mulut saat batuk, bersin, atau menguap. Ngantri jangan terlalu dekat jarak dengan badan orang, langsung ganti baju dan jemur di panas begitu pulang dari pergi pergi. Nggak usah baper kalau ada jamaah yang nggak salaman.
Seperti Bu Gubernur bilang "Tanpa Salaman Kita Tetap Berteman"

Cuci Tangan yuk, 20 detik yang baik. Sebab virus berlapis lemak, kurang dari itu cuma lemak yang luntur. Selisihi jemari seperti yang Rasul contohkan.

Cuci tangan dan tutup mulut banyak manfaat. Kecuali... Cuci Tangan dan Tutup Mulut yang pakek tanda kutip itu tuu ! :)











Selasa, 10 Maret 2020

Jangan Takut, Jangan Sedih


                                        Dok.indopos.co.id


Kenapa takut?
Kenapa sedih?

Yang membentuk trilyunan sel dalam tubuh kita amat mengasihi, Maha Cinta , Maha Halus, Lembut.
Dia tak akan tega memberi kasus baru hingga hamba terbelalak di tiap kejadian.
Semua yang terjadi hanya pengulangan sejarah.
Kalau sekarang anak anak kecil diculik untuk diambil organnya, dahulu anak perempuan dikubur hidup hidup olah ayahnya sendiri.
Kalau sekarang ada wabah Corona dulu ada Tho'un.


Tak ada sakit yang menyebabkan kematian melainkan kematian itu memang sudah jatah.
Penyakit cuma alat menuju titik akhir.
Muncul dan berpindah atas izinNya


Duhai
Bahagianya mereka yang berwajah tenang
Perkara muslim selalu baik
Pesan Laa Takhaf wa laa tahzan melalui malaikatNya
Terletak rapih dalam batin.

Duhai
Bahagianya mereka yang sakitnya jadi berkat
Dalam kepayahan melantunkan huruf
Diiringi deru dan tawaf 70 triliun sel di sepanjang 75 km neuron.

Ia yakin yang dilantunkannya adalah penawar dan penghibur.
Iya yakin lebah serta tumbuhan adalah penerima titah terbaik .
Wujud ihtiar dan tawakkalnya tak cacat

Duhai
Indahnya yang berhati tenteram
Bersandar pada yang kokoh
Merasa cukup dengan wakilnya
Tanpa menuduh lemah atau pun kurang



















Senin, 09 Maret 2020

Ingin Jadi Volunteer






Miris  ikuti berita anak remaja pembunuh balita. Bagaimana dengan santai dan dinginnya dia lapor polisi tanpa penyesalan.
Usianya tergolong remaja jadi susah dikatagorikan psikopat , dibilang  skizofrenia  pun bukan.
Reza Indradiri psikolog forensik berpendapat pelaku harus ditangani psikolog dan ahli otak dikarenakan kerja otaknya tidak biasa.

Dari rumah kecilnya di lingkungan padat Jakarta Barat  polisi membawa  papan curhat .
 Goresan berbahasa Inggris  diawali dengan Bismillah itu penuh pendaman hati yang bakal dipelajari ahli.
Ia sebenarnya anak pintar, pendiam, prestasi dibidang tenis meja, dan mau jalankan sholat.
Tapi ada faktor lain pula yang  mendorongnya melakukan perbuatan tercela .  Perpisahan orang tua, kurang perhatian, tak pernah dapat pujian dari orang terdekat, serta hobby nonton film horornya.
Apa yang berulang ulang dilihat, didengar, dialami, akan berpengaruh pada perilaku. Apalagi ditambah kelainan kerja saraf   bawaan lahir .


Masih terbayang kondisi rumah pelaku. Sudut tempat belajar  tidak ada, apalagi kamar pribadi. Ibunya yang bekerja di rumah korban sepertinya tidak sempat lagi bebenah rumah.
Sendiri di antara berantakannya rumah dan suara bising di luar tanpa disadari bikin otak penuh.

Pemukiman kumuh rentan penyebaran penyakit, sumber pencemaran . Paling saya khawatirkan adalah memudahkan tumbuhnya perilaku menyimpang dan kriminal  yang bisa mengimbas ke mana mana.
Jadi ingat cerita wanita penjaga toko di Pasar Tanah Abang. Bersaudara 6 orang tinggal di rumah sempit.Tidur beramai ramai di satu ruang hingga  hubungan intim orang tuanya yang cuma dipisahkan selembar kain itu mau tak mau terdengar. Walhasil sang kakak bersedia dicampuri ayahnya saat ibu bekerja.

Jika tingkat kelurahan punya program yang mengarahkan warga untuk merapihkan rumah dan lingkungan serta penyuluhan, saya mau banget jadi volunteer. Ajukan sponsorship ke produsen perlengkapan kebersihan, produsen cat, dll. Bisa jadi rejeki tambahan untuk kegiatan pula bila dijadikan konten youtube.

Volunteer adalah upaya untuk mengungkapkan rasa syukur .
Alhamdulillah anak anak bisa tenang dan betah menikmati suasana rumah meski bukan golongan orang the have.
Volunteer diharap bisa menjawab  pertanyaan "Nanti" .
Apa jadinya kalau  di bumi cuma jadi pembaca / pendengar berita?

Insya Allah, kalau ada peluang dan saya yakin ada banyak bentuk .
Yang penting pasang niat aja dulu.

Di belakang wilayah tempat tinggal ortu saya ada juga pemukiman padat .
Aroma kali hitam sudah biasa mereka hirup. Sebelum ada Kanal Timur  kerap terendam banjir tahunan.
Beberapa kali polisi menangkap pelaku pencurian di sana.

Alhamdulillah kini musholla sederhana dan majelis taklim bermunculan mengundang berkah.  Kondisi fisik masih sama , tapi cenderung aman. Anak anak mereka yang sudah menikah benar benar memulai kehidupan baru. Tinggal jauh di tempat layak. Memberi anak anak mereka lingkungan yang lebih baik.

Di beberapa titik mereka bangun pendopo ber TV. Tempat bapak2 melepas penat sambil  cari angin, selonjoran hindari sumpek padat dalam rumah .















Rabu, 05 Februari 2020

Enaknya Punya Teman Hobby Motret.





Foto di atas adalah salah satu kue kesukaan keluarga saya (Kue Khamir). Rasanya seperti  kue Pukis yang gurih santan dan susunya bercampur dengan harum vanila. Bedanya adonan dicampur tape singkong , dengannya kue jadi terasa pakai keju.  Paling enyuuss banget kalau disantap hangat. Lumuran asin Blue Bandnya itu lho yang bikin kepengen nambah lagi.

Agak merasa berdosa kalau posting makanan di Instagram trus ada yang kabita ( kepengen ) meski tujuannya untuk sharing resep. Jadi niatlah untuk kirim teman yang koment asal tempat tinggalnya sewilayah. Kebetulan Mbak Inna sahabat blogger yang bisa saya kirimi.

Nggak sengaja pas hari bikin, pas Mbak Inna dan putranya sedang kurang sehat. Semoga bisa jadi penghibur lidah.

Alhamdulillah si Khamir dalam tas kertas itu sampai dengan aman meski tersendat. Mang Ojol laporan berteduh dulu di Indomaret. Kesian..


Besok atau lusanya? Saya lupa deh!
Mbak Inna nge-WA. Ada apa ya?
Kan sudah say thanks pas terima?

Mbak,  IGnya kok hilang?

Mbak Inna rupanya punya suprise karya tapi nggak bisa terkirim ke IG saya.


Lihat! Si Kahmir jadi tampil cantik dengan jepretan kameranya. Ya ampuuun...Nuhun pisaan Mbak Inna shalihah.
Happy kalau dipotretin orang lain. Apalagi food photographer keren kayak Mbak Inna. Buktikan deh di IGnya!

Bukan cuma itu,  yang nambah seneng Mbak Inna yang jago masak ini bilang , kegigit kejunya lho, Mbak. Hehe padahal  itu tapee

Terimakasih Mbak Inna sayang :)
Bukan cuma di FB , di hati pun tersimpan foto cantik itu.