Jumat, 29 Mei 2020

Untukmu



Duhai adikku.. Kau masih lincah menari dengan tawa lepas di mataku.
Kusimpan rapih dalam lipatan kertas suratmu yang makin menguning (Tahun 1989)

Ku harap
Kau bukan bara yang kukira asap.
Mungkin kau sedang rapuh
Seperti kertasmu dalam sampul coklat yg kukumpulkan bersama surat ibu.
Pelan sekali kubuka
Sepelan kususuri cerita lama.

Mungkin hatimu menyimpan gaduh
Tapi kau masih yang dulu
Yang pernah kulumuri rindu
Saat menatap jajaran nyiur pantai Pariaman.

Kau tak pernah tahu.
Biar saja begitu.

Kuhibur hatiku
Pada hijau aurora
Yang  pernah datang sekejap.
Berkabut... Tak menyilaukan.
Mengapung di sisi sajadah.

Aku  mendoakanmu..
Di sana.







Sabtu, 02 Mei 2020

Sahabat Di Garis Depan



Masa seperti ini sepertinya cuma kesehatan yang jadi fokus dan jadi daftar panjang doa.

Ada kecemasan saya waktu lihat  kiriman foto sahabat baik, sama sama aktif di Masjid Sunda Kelapa tahun 80an dan masih sering bertemu. Kami ngobrol ringan di perpustakaan Kampus UI bulan bulan lalu.
Dalam tugasnya melayani pasien di klinik  dia cuma pakai kacamata biasa! Teman2  jadi sedih bareng.
Nggak tega lihat dia berbalut mantel hujan tebal warna biru laut yang nggak menutup rapat pergelangan tangannya :(

Punya 5 sahabat dokter sebetulnya, tapi 3 dokter gigi dan satunya Dr Ossy punya tugas semacam mengaudit medis atau meninjau prosedur medis.
Berkeliling Rumah Sakit beresiko juga kalau Imun tubuh lemah.

Di WA grup Dr.Ossy ini banyak  informasikan Rumah Sakit mana  yang paling kekurangan APD,   petugas UGD dan pegawai kebersihan pun kadang kekurangan makanan.

Gerak cepat teman teman dalam seminggu alhamdulillah dapat terkumpul sekian juta. Kedekatan dan kehangatan persahabatan kok makin terasa ya di saat ujian Allah datang.

Uang ada tapi kalau barang tak tersedia buat apa? Dari teman ke teman ahirnya dapat juga penyedia APD meski harganya wow banget!
Makanan dari Katering pesanan alhamdulillah lancar datang. Salutnya perawat perawat itu  kok ya sempat sempatnya  kirim ucapan dan dokumentasi apa saja yang mereka terima. Padahal nggak kirim juga nggak apa apa. Dengar mereka baik baik dan tercukupi saja sudah gembira.






Tapi memang ada efeknya sih...
Berasa hadir di sana dengan lihat kondisi lokasi. Maka waktu 2 dokter ahlinya meninggal perih banget lihat ambulance berspanduk RS Pasar Rebo keluar perlahan melewati barisan perawat dan pegawai RS yang terisak. Doa dan air mata sampai di gerbang pintu keluar, setelah itu entah dibawa ke pemakaman mana??


Cukup ngaduk ngaduk hati 2 bulan lalu. Skarang dokter Fifi berbaju mantel sudah berpakaian lengkap. Entah, diam diam saya berharap dia dapat keringanan tugas supaya bisa istirahat banyak di rumah. Saya hawatir dengan kondisi kesehatannya.

Dokter yang baik hati. Tempat saya konsul jika kondisi lagi nggak sehat. Kami punya kesamaan sebisa mungkin jauhi obat, jadi dia kasih resep obat yang super ringan atau solusi lain tanpa obat.
Ingat bagaimana dulu dia curhat dimarahi suaminya karna obat yang sudah ditebus nggak diberi ke anak balitanya. Itu obat obat disimpan dibawah kasur dan ketahuan!!
Berdua ketawa kalau cerita itu lagi. Ya iyalah! Ia tahu efek samping apa yang mengintip di balik obat2an.

Dia sensitif, cepat luruh hati kalau datang pasien lansia apalagi dhuafa.
Satu hari dia bilang, "Kok saya dokter tapi   lemah begini?"
Dokter yang semangat belajar agama dan banyak tanya padahal yang ditanya nggak lebih tau dari dia.

"Fi, kamu enak bisa maju ke garis depan, bisa syahid. Trus saya bisa apa?
Dalam krisis begini kok saya nggak ada sumbangsihnya sama sekali?
Dia cuma jawab, "Kamu kan bisa nulis, himbau masyarakat saja lewat tulisan"

Semoga Allah beri perlindungan dan kesehatan untuknya. Hati berbunga lihat dia sudah berpakaian lengkap sebagai ihtiar. Tetap berteman tanpa bertamu, berdo'a tanpa bersua.

Big hug! Kangen dan sayang buatmu Fifi , Rossy dan pejuang pejuang medis lainnya. Terimakasih buat teman teman donatur.
Hanya menguatkan IMAN dan IMUN cara menghadapi keadaan.

Seberapa besar apa pun Allah turunkan balaa dan wabaa, tetap nikmat Allah lebih banyak. Nggak terbilang , nggak terukur. Ibarat 1 pohon khuldi doang di luasnya syurga yang nggak bersudut.

Menahan sabar, tahan makian, tahan  mencandai musibah, tahan dumelan karna ada hak yang terambil, akan lebih baik dari pada menahan lapar, haus, keringat  di padang penantian.