Jumat, 27 Agustus 2021

Sepi

 


** Salah satu sumbangan tulisan sahabat Riska untuk kenangan di lembar halaman buku Yasiin alm Mas Yono


Di sini sepi...

Begitu tulismu di WA grup Aksi Sosial RISKA

Saat duduk ngaso tengah malam di tepi jalan pusat Jakarta, daerah elite.

Terkirim foto minuman hangat berlatar belakang jalanan lengang,  temaram lampu jalan dan aspal basah

Lalu terbalas...

Memang perlu bersepi diri, Mas. Sebelum "Sepi" yg sesungguhnya.


Kameramu tak hanya membawamu  masuk ke rumah orang kaya lalu nikmati hidangan mewah.

Ke tempat becek bahkan Rutan  pun masuk  demi Aksi Sosial.

Kameramu memadu  banyak hati, sarat cerita.


Jam Klok Klok karyamu yang ilmunya kau tebarkan untuk pemuda kampung  tempat pembuangan sampah ,  masih mengisi dinding dinding masjid berlantai pualam hingga ruang musholla pasar berdebu, di pinggir kali Bogor .



Guntingmu keliling merapihkan rambut bocah hingga rambut Presiden PKS


Selalu semangat melakukan sesuatu.

Sesemangat tanganmu mencoba resep baru di dapur

Sesemangat acungan 2 jempolmu sebelum pintu mobil Rumah Sakit tertutup.

Diiringi senyum syukur  menguatkan kami yang cemas


Suatu malam kami yang jadi saksi atas kebaikanmu berkumpul .

Mengenangmu dengan air mata duka penuh  kerinduan

Sulit menceritakan jalinan kekerabatan kita di RISKA

Mungkin karna berawal dari masjid dan terus melingkar di kegiatan masjid. Semoga bertanda keberkahan.


Kami kehilangan sosok penghibur hati teman yang sedang sakit.

Pemberi support teman yang berjuang menjemput rejeki


Banyak doa naik ke langit untukmu, Mas.

dari ruang maya hingga di sini..

Di musholla tua bercat hijau warna kesukaanmu.


Jam sedekahmu  masih berdetak di atas mimbar

Jadi saksi  tangan letih pedagang mengenakan sarung setengah lusuh,  bersujud melepas himpitan hidup


Meski jantungmu tak lagi berdetak ,

tapi karyamu tetap jadi pengingat waktu berdialog dengan Al - Khaliq. 


Mas Yono...

Ajakanmu makin segar, sesegar tanaman2mu

"Tak Ada alasan untuk tidak bersyukur"

Derajat tertinggi yang tak tergapai tanpa lewati jalan sabar dan ridho


Maka tak heran  satu kalimat kau ucap tegas di sela rasa  sakitmu.

(Alhamdulillah aku dapat ujian ini!)



Semoga kelak Allah memberimu tempat  di Jannatul Muqomah, tempat  kembalinya orang orang yang pandai bersyukur dan tak pernah putus asa.

Masuk dalam golongan orang yang sedikit  (QS 32 :9)


Semoga Allah jauhkan  hati kami dari  penyesalan.

Allah menjadikanmu syahid (Insya Allah)  dalam pandemi adalah kemuliaan


Jasadmu sepi sendiri kini

Namun ruhmu  berteman semaian bunga bunga amal kebaikan.

Amiin ya Rabb.

Sabtu, 31 Juli 2021

Subhanallah





 Subhanallah

Untukku

Pencuci fikir buruk


Subhanallah

Untukku

Kusucikan lagi namaMu

Setelah seharian kukotori 


Subahanallah ada pada ruku' dan sujud.

Menghapus kembali wajah mahluk yang terbentuk sejak takbir awal. Berulang,  datang pergi. 

Berharap jatuh bangunku kembali ke khusyu' bisa mengundang ibaMu.


Subhanallah

 untukku

Pengingat bahwa akulah sumber kotor

yang perlu kotor

Agar kenal murni harum sabunMu 





Sabtu, 26 Juni 2021

Catatan Seorang Ulama

 


Tak butuh kotak kotak penyimpan ilmu yang mudah  dibakar!

Ia sudah ada dalam pemahaman, tersimpan dalam sanubari di mana pun aku ada, ke mana pun aku pergi. Kelak aku pun akan terkubur bersamanya

Sebab ilmu bukan sekedar hafalan. Jika fahammu mampu raih simpul fikir dan faham orang di seberangmu . Kau kuasai  kuncinya!

Meski penentangmu menyerbu ribuan rumah baca, amati jutaan buku,  ujung jawaban bermuara padamu.

Tingkat pemahaman bergantung pada ilmu. Namun ilmu adalah rejeki, anugerah terindah. 

Banyak orang berilmu tapi Allah tak memberinya  pemahaman. 

Banyak orang berilmu tapi sempit dalam pemahaman.

Ada yang cinta ilmu tapi tak bisa menghafal. 

Ada yang punya hikayat tapi tak bisa meriwayatkan. 

Ada yang susah payah menghafal sampai minta pertolongan Allah, lalu Allah aktifkan sanubarinya sampailah ia pada tujuan faham tanpa melihat.

Berbahagialah mereka yang diberi ilmu, hafalan, pemahaman dan kekuatan fiqh.

Ia tak butuh lagi "Qamatiri" kotak kotak penyimpan.

Kata penyair..

Ilmu itu bukan tersimpan dalam kotak.

Ada orang yang faham saat muncul masalah tanpa melihat buku, bahkan mampu berfatwa. Dan setelah dicek ternyata benar fatwanya. 

Awam sering minta fatwa lalu kecewa bila ulama tak memenuhi. Dianggapnya ulama tersebut tak menguasai. Padahal orang berilmu sangat hati hati menjaga lidahnya. Ia menunjuk ulama lain yang lebih spesifik menguasai ilmu tertentu.

Jika berbicara pribadi ia sangat faham. Lihai mengurai masalah dan tahu  hukumnya dengan baik, tapi untuk fatwa ia tahu siapa yang tepat memberi. 

Orang berilmu tak segan/gengsi mendatangi orang yang lebih menguasai. Ilmu telah  meninggikan adab dan ahlaqnya. Ia tahu persis bermuammalah dengan ilmunya.

Itulah ilmu! Hakekat ilmu adalah dari apa yang ia fahami. Kadang yang ia fahami lebih kuat dari apa yang ia hafalkan.

Kenapa dia bisa?

Karna ia mendalaminya 

Memahaminya

Muzakarah  ( Bertukar Fikiran)

Belajar sambil mengajar

Memikirkannya

Munadaraoh (Berdiskusi)

Ingatlah, ada yang cinta ilmu, cinta zikir tapi berhati kaku. Maka ia sulit memahami





Selasa, 22 Juni 2021

Selalu Ada Perubahan


Kepikiran, bagaimana kalau sarapan dulu baru zikir pagi?
Biar asupan diproses berbarengan dengan lantunan kalimat kalimat yang disukai pencipta makanan, pemberi nafas, pemberi rasa dan penciuman.

Kita dilingkupi kedinamisan. Segala bisa berubah, dan segala punya masa.
Cangkir kesayangan pecah, karir musnah, hilang selera makan si tua renta, sampai ke persoalan jarak antar  bintang yang berubah hingga lebur. Mata tertipu seperti lihat gunung yang dikira diam.
Dan amazingnya 70.000 malaikat penjaga arasy beribadah memuji Rabb  dalam seharinya kita. Esoknya berganti malaikat baru, yang kemarin tak pernah kembali. 

Jarak dan ajal memenuhi alam. Matematika maha rumit dan maha teliti . Dari qadar alam akbar hingga alam saghir.

Nikmat sarapan jaraknya hanya sebatas ujung lidah dan pangkal leher.
Jika ia menghilang bersama zikir semoga jadi berkah. Penambah energi, penghapus toxin,  penguat imun.

Oh ya.. ada undangan meeting zoom hati ini jam 12.30. Bahas masalah Cancer. Head linenya keren... Kajian Virtual Kesehatan Religius Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).
Menarik!
Semoga nggak kelewat lagi kayak yang sudah sudah 😃




Minggu, 06 Juni 2021

Selangkah Dari Sajadah


Selangkah dari sajadah kulihat gadis pengikut LDII wafat di depan ayahnya saat  setoran hafalan.
Berbalut mukena habis sholat subuh dan dalam keadaan berpuasa.

Selangkah dari sajadah kulihat ahlul bid'ah hanya sanggup melantunkan 3 ayat indah surah Al Mulk di mimbar, perlahan tubuh lemah melepas nafas ahir dengan tenang sementara mikrofon masih di tangan.

Selangkah dari sajadah  kulihat seorang pengikut Jamaah Tabligh wafat saat memberikan tausiah.

Selangkah dari sajadah kulihat santunnya  seorang pengikut Salafi  membalas tikaman fitnah . Wafat dengan indah dan terkuak pengalaman spiritualnya di malam lailatul qadr pd catatan hariannya. 

Selangkah dari sajadah kudapati harumnya lubang kubur sebelum penghuninya diusung. Seorang ibu buta mazhab. Jamaah dari majelis taklim mana saja karna merasa bodoh. Menjenguk siapa saja yang sakit karna sayang. Dan penyedia teh hangat buat pedagang yang lewat.

Selangkah dari sajadah adalah perjuangan melawan prasangka. Perjuangan menyerahkan perkara kepada yang Maha Menghakimi. 

Selangkah dari sajadah adalah menerima sunatullah perbedaan, 73 golongan!
Bersabar hingga menemukan yang 1, yang tengah, yang dapat ridlo Allah.

Selangkah dari sajadah Allah hanya ingin melihat fikir dan sikapmu atas catatan Adz Zikra, Lauhul Mahfuz.


Sabtu, 22 Mei 2021

Zhon Yang Tak Terasa

 

Dulu awal sekolah TK dibuka, ada beberapa murid yatim. Salah satunya berwajah mungil, rambut tipis kemerahan,  sering sariawan di kedua sudut bibir. Lebih banyak mendengar celoteh teman dan sedikit ketawa

Tiap pagi diantar ibunya sampai gerbang sekolah. Tanpa tangis seperti anak anak lain ia ringan lepas ibunya pergi kerja seringan  melepas jatah main ayunannya ke teman.

Sempurna ukiran cita cita saya untuk Ipeh. Apalagi setelah ibunya wafat. Tak ada lagi pemandangan ibu sabar betubuh kurus menenteng rantang  itu menghilang di ujung jalan.  Bukan cuma Ipeh dan saudara saudaranya yang kehilangan, keluarga teman saya tempat beliau bekerja  pun sama.

Beasiswa Ipeh  harus lancar, harus tekun belajar, semangat meraih impian. Puncak bahagia saya adalah bisa kirim foto ipeh bertoga untuk sahabat donatur.  

Namun ukiran cita mulai somplak. Beberapa kali saat bayar SPP,  Kepsek dan guru kelas bergantian kasih laporan soal ketertinggalan Ipeh.  Kepergian emak dan kurang dukungan keluarga banyak pengaruhu semangat dia.

Belum sampai SMP Ipeh berhenti, memilih bantu cuci popok anak saudara.  Satu hari dia datang dengan muka kesakitan. Telapak tangan penuh gelembung bernanah . Alergi sabun cuci sampai meriang.

Rentang waktu  cukup lama. Ipeh usia SMA datang lagi. Kali ini bawa air mata. Ipeh lugu salah pilih kerjaan. Dia kira tugas "Menemani Tamu" itu cuma ngobrol . Beruntung tamunya baik mau bebaskan Ipeh yang pura pura pingsan waktu dipaksa tenggak minuman.

" Tolong carikan kerjaan,Bu. Apa saja saya mau asal halal". Tapi baru seminggu kerja sebagai ART , majikannya datang muntahkan kekecewaan. Ipeh minggat begitu saja tinggalkan anak2 kecilnya sendirian dengan pintu2 terbuka. Untung satpam komplek mau mengawasi.

Mau jadi apa Ipeh?  Apa berdosa mengaharap sedikit manfaat dari sedekah teman2? 

Ipeh menghilang lagi, mungkin  merasa salah campur malu. Pernah lihat perempuan sibuk mirip dia  di swalayan bawa banyak kantong belanjaan jelang waktu berbuka puasa. 

Terjawab pas di angkot ketemu tantenya yang kaget dan sumringah lihat saya. Bicara tergesa gesa seperti ada desakan  dalam batinnya.

"Ibu, masih ingat saya? Saya Bibinya Ipeh. Ipeh sekarang kaya bu. Kerja di pabrik sepatu terus dilamar bosnya orang Jepang. Tua sih bu, tapi sayang sama Ipeh dan nggak pelit. 


"Alhamdulillah", timpal saya takjub.

"Puasa kemarin sodara sodara dapat paket lebaran, Bu. Ponakan ponakan semua dibiayai sekolahnya trus Ipeh rajin bagi bagi sedekah"!

Halus  lembut Zhon melebihi sutera. Tak beradab betul serobot hak yang Maha Berkehendak.  Akal mengira semesta akan mendukung niat baik padahal ada yang Maha mengatur.

Dalam keseharian terbiasa bikin  plan A plan B, padahal yang keluar malah di luar plan sama sekali.  

Anggap saja sedang berdiri di depan pintu lift, kita tidak tau siapa dan berapa orang terlihat begitu pintu terbuka. Bisa jadi sdh penuh sesak dan kita tertolak. Bisa jadi cuma kita sendirian.

Memang tak ada daya. Allah yang pertemukan saya dengan Ipeh. Allah  gerakkan hati donatur, Allah pinjamkan rejekiNya dan seterusnya.

Berusaha saja ikut skenarioNya. Meski berulang kejeblos di tempat yang sama anggap latihan sambil biasakan mata sabar tunggu jalannya proses. Biar hati lapang tak didera kehendak. Nanti lama lama Allah pasti kesian. Tangan dan hati kita bakal dipandu.







Rabu, 19 Mei 2021

Sedekah Harian

 Jika hari ini belum bersedekah,

Coba tengok dompet 

Jika tak ada uang

Coba  teliti lagi

Masih ada kepingan dan lembaran di sana

Keping maaf 

Lembar doa

Dan lembar kemudahan

Pasti manfaat untuk untuk si fakir mau pun si tajir.

Dompetmu akan terus terisi membesar...membesar..membesar

Apa pun yang diberi selalu kembali berlebih 


Mendoakan orang lain akan diaminkan dan didoakan malaikat dengan doa serupa. Kita kerap lupa, ada tenaga besar yg selalu siap membantu doa kita melesat ke langit.


Selasa, 18 Mei 2021

Pertemuan

 Aku bertemu hujan

Ia tak mau lagi dijadikan gula sajak

Aku bertemu purnama

Ia tak mau lagi dijadikan bunga rayu


Cantik syahdunya tersimpan

dalam  hening

Berhias air mata pecahan ratna

Bukan semata air.


Bagaimana bisa kukisah?

Qalamku bisu

Tak bertinta 


Hari hari tumbuh ranting

Bahagia..

Rahasia..

Lepas..














Kamis, 22 April 2021

Tepis Was Was

Cukup besar suara was was dalam diri. Saking akrabnya sampai menyatu dalam darah. Mengalir sangat lembut sampai berubah jadi alasan cinta.

Karna cinta timbul tanya. Bagaimana masa depan anak laki2ku? Apa mereka bisa jadi khalifah di keluarganya? Bagaimana anak perempuanku? Apa bisa mendidik anak2nya? Ah, masih jomblo saja yang satu kamarnya rapih kalau teman mau datang. Niat emak yang mau mendidik anak bisa berapih bersih malah kaget tiba2 di kamar ada petugas Go Clean. Tinggal pencet2 angka doang, kelar!

Mikir masalah keuangan, kesehatan,  bayang keraguan kecil2 tapi banyak lalu menggumpal kayak Rengginang. Ada, kan? Seorang ibu muda yang baru melahirkan kena Baby Blues, nangis nggak jelas gara gara   hawatir nggak bisa mengurus dan mendidik si bayi, takut suami "Berpaling" karna tampilan badan sudah berubah paska turun mesin dan kecemasan lain.

Sibuk ya..Belum lagi terima was was orang. Ram otak rendah, sinyal ilahiah  lemah, tertipu deh.  Kelihatannya sih saling sayang sama2 curhat, nggak nyadar ada yang lagi seru terbahak. "Bersama kita bisa!" Kata si Syaithon.

Was was bisa dilumpuhkan dengan pemahaman TAKDIR. Kalau lihat skema pelajaran TAKDIR dari pak ustad, was2 itu ada di sebelah paling kanan bagian atas, spidol biru, bagian pertama baris ke dua, *  ala ustad AH.

Dasar takdir 3..

Allah Maha Tahu, Maha berkehendak, Maha Sempurna saat mengeksekusi takdirNya. Semua atas dasar lautan Kasih Sayang. Tidak ada yang terzolimi meski kepada penentangNya.

Situasi dan waktu membawa perubahan. Si anak jadi mandiri, teliti menata melebihi emaknya. Dengan waktu dan fitrah ibu muda bukan cuma sanggup jalani kehidupan normal, tapi anak justru jadi sekolahnya. 

Kesehatan bermasalah tapi solusi  datang, bahkan bertransformasi jadi lahan usaha. Makin tua ahirnya makin banyak sedekah. Allah Maha  Tahu sebelum dan kesudahan sesuatu. Andai ia mampu curi2 pandang catatan takdir pasti malu berkeluh kesah.

Lengan manusia terlalu kecil untuk menjangkau ilmuNya. Nggak akan tahu kenyataan dari suatu keinginan . Di tempat "Penggodokan" pun warga sempat2nya mohon  dikembalikan ke dunia buat beramal. Padahal Allah tahu mereka akan membangkang lagi di jilid 2. (Nauzubillahi min zalik!)

Agar bisa Social Distance dengan was was, gunakan modal pemberianNya sejak kita lahir. Kita punya panca indera, hati, mata, akal dan nurani.  Ihtiar cukup lalu berserah.

Bila plan A plan B gagal, itu artinya lagi diingatkan bahwa ada yang Maha Berkehendak. Hitung2an kita ribet, nggak nyambung  dengan kehendakNya, so nggak usah  kepedean jadi manusia. Kalau ihlas nanti tau2  kita dapat 1 kotak kejadian yang isinya macam macam jawaban.  Allah senang kasih yang paket2an gitu. 

Kita yang terima dengan sadar jadi kayak ibu ibu di depan kasir dengan mata berbinar. Panjang item list belanja ternyata harus bayar 2 item doang, yang lain sudah dapat dari bonus, bungkus!

Ini termasuk was was berbentuk kata...

 "Sekarang aja gini..gimana nanti?" Gitu kali yaa 😃

Happy banget mereka yang cerdas pagari was was dengan menghubungkan titik2 keMaha-anNya dari menit ke menit.









Rabu, 14 April 2021

Was Was.

Persoalan was was nampak ringan di  surah pendek ( QS. Annas).  Tapi  bila dicermati ada 3 kekuatan Allah di sana , sebagai Rabb, Malik, dan Illah, yang dijadikan sandaran tentu bukan hal enteng!


Sementara surah Al falaq hanya 1 menyebut kemaha-an  Allah. Al khaliq  Maha Pencipta)  guna hadapi ganguan sihir

Was was termasuk penyakit hati.  Keluar jadi sebentuk kata "Seandainya", 

- Seandainya aku tak bertemu dengan dia dahulu. 

- Seandainya ibuku tak dirawat di  Rumah Sakit anu..

Kata pak ustad was was itu jebakan setan. Agar manusia lupa nikmat hari ini , suuzon pada Allah bahkan mengutuk keputusanNya.

Ragu besok masih punya makanan atau tidak pun termasuk was was .